one note

dokter muda… here we go !

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

PREVALENSI BUTA WARNA DESA SERAYA, KARANGASEM

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang Masalah

Gangguan penglihatan dan kebutaan menjadi tantangan serius para ahli penyakit mata saat ini. Dari 479 siswa, 95 % mengalami kebutaan dan 4,6 % mengalami gangguan penglihatan parah. Didapatkan 35,9 % penyebab kebutaan atau gangguan penglihatan parah terletak pada bola mata, 18,9 % pada retina, 16,4 % pada lensa, serta 16,1 % pada kornea. Sebagian besar tidak diketahui penyebabnya, akantetapi 31,9 % disebabkan oleh faktor herediter. Dalam sebuah studi di Jawa ini, siswa dibagi menjadi 2 kelompok umur , umur kurang dari 16 tahun dan umur lebih dari 16 tahun, dimana kerusakan mata oleh karena faktor kornea menurun dan meningkat oleh karena faktor herediter [1]

Gangguan penglihatan mata herediter, seperti buta warna mempengaruhi sejumlah signifikan orang, proporsi yang pasti jumlahnya bervariasi. Di  Australia buta warna terjadi pada 8 % laki-laki  dan hanya sekitar 0.4 % pada  perempuan [2].Sekitar 8 % wanita pembawa sifat Buta Warna (color blindness carrier) [5]. Di Amerika Serikat sekitar 7 % dari populasi pria  atau sekitar 10.5 juta pria dan 0.4 % populasi wanita tidak bisa membedakan warna merah dari hijau dan membedakan warna merah dan hijau (red-green colors deficiency)[2]. Kelainan buta warna yang didapat (buta warna biru kuning) memiliki pengaruh sama antara laki-laki dan perempuan [3]. Di Iran  dari populasi anak-anak usia 12-14 tahun yang mengalami defek penglihatan warna 8,18% laki-laki dan 0,43% perempuan, tidak didapatkan adanya penyakit sistemik, penyakit mata, pengobatan kronis, dan tidak terdapat kelainan fundus dengan visus 20/20 (emmetropia).[14]

Abnormalitas penglihatan warna tidak banyak mempengaruhi kehidupan awal manusia seperti pada masa kanak-kanak, karena tidak disertai oleh kelainan tajam penglihatan[9], dan justru akan mulai mempengaruhi ketika anak dihadapkan pada persyaratan untuk masuk jurusan tertentu yang buta warna menjadi salah satu kriteria (seperti : kedokteran, teknik, design grafis,dll). Oleh karena hal tersebut, identifikasi dini kelainan buta warna perlu dilakukan untuk membimbing anak dalam menentukan jenjang pendidikannya kelak. Dengan mengetahui genetik sebagai salah satu penyebabnya, kita dapat mencegah peningkatan kasus buta warna seperti misalnya dengan melakukan konseling pranikah. Tidak terbukti bahwa penderita defek penglihatan warna dapat melihat pada keadaan gelap karena tidak terbukti  sel batang akan menggantikan posisi sel kerucut yang hilang[7] .

Kejadian Buta Warna meningkat pada pool genetik dengan perkawinan diantara satu komunitas terisolir[3] . Hal ini berpeluang untuk terjadinya peningkatan prevalensi penderita buta warna yang memiliki kecenderungan herediter. Prevalensi Buta Warna menunjukkan jumlah penderita buta warna dalam satu populasi dalam satu periode tertentu.

 

1.2  Rumusan Masalah

Berapakah prevalensi Defek Penglihatan Warna pada anak SD kelas 3-6 di Desa Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem?

 

1.3  Tujuan

Untuk mengetahui prevalensi Defek Penglihatan Warna pada anak SD kelas 3-6 di Desa Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem.

 

1.4  Manfaat

Bagi Peneliti

1.      Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana Kedokteran

2.      Untuk menambah pengetahuan

3.      Agar bisa berinteraksi dengan masyarakat dan pada anak khususnya

Bagi Institusi                                    

Mendapatkan data mengenai angka prevalensi defek penglihatn warna anak SD kelas 3-6 di Desa Seraya yang kemudian bisa dipergunakan sebagai referensi dalam penatalaksanaan penanggulangan bahaya penyakit tersebut serta dapat dijadikan bahan acuan untuk penelitian-penelitian lebih lanjut.

Bagi Masyarakat

Dapat memberikan informasi tentang gambaran defek penglihatan warna dan angka prevalensinya di masyarakat, sehingga dapat dicegah angka kejadiannya di masyarakat.

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Definisi Defek Penglihatan Warna

Defek Penglihatan Warna atau yang lebih dikenal dengan Buta Warna adalah gangguan penglihatan warna, ketidakmampuan untuk membedakan warna yang orang normal mampu untuk membedakannya[2] Seseorang dapat melihat normal apabila fungsi organ mata (makula dan saraf optik) normal, terdapat cukup cahaya yang dipantulkan ke mata dan sistem penghantaran impuls melalui saraf normal[3]. Retina sebagai salah satu bagian dari mata berperan di dalam proses ini merupakan bagian yang peka terdapat cahaya, pada retina orang normal mengandung dua jenis sel yang sensitif terhadap cahaya, yaitu sel batang yang aktif pada cahaya gelap dan sel kerucut yang aktif pada cahaya terang. Ketika sel batang dan sel kerucut dirangsang oleh cahaya, sinyal tersebut akan ditransmisikan melalui neuron yang terkait melalui serat saraf optik menuju korteks serebral. Normalnya ada tiga jenis sel kerucut yang masing-masing mengandung pigmen yang berbeda-beda. Sel kerucut aktif ketika menyerap cahaya, spektrum penyerapan cahayanya berbeda-beda. Sel kerucut yang  pertama cukup sensitif pada gelombang pendek (Short Wavelengths/S-cones), yang kedua pada gelombang medium (Medium wavelengths/m-cones), yang ketiga pada gelombang yang panjang (Long Wavelengths/L-cones), (sensitivitas puncak pada warna biru, kuning kehijauan dan merah) . Sensitivitas penglihatan warna normal tergantung dari spektrum cahaya yang lebih banyak diserap dari ketiga sistem (merah hijau biru), perbedaan warna yang terlihat tergantung dari tipe sel kerucut yang distimulasi dan luasnya[5]. Orang dengan defek penglihatan warna, mengalami kehilangan satu sel kerucut atau sel kerucut memiliki puncak absorbsi yang berbeda dari normal [10].

 

2.2  Epidemiologi Defek Penglihatan warna

Jumlah penderita defek penglihatan warna bervariasi pada masing-masing kelompok, sebagai contoh di Australia yang terjadi pada 8 % laki-laki dan 0.4 % wanita[2]. Komunitas yang terisolasi dengan populasi gen yang terbatas, biasanya memiliki prevalensi yang cukup tinggi, contohnya di pedesaan Finland, Hungary, dan Scottish[2]. Di Amerika serikat sendiri, sekitar 7 % dari populasi laki-laki, atau sekitar 10.5 juta laki-laki dan 0.4 %  populasi wanita tidak bisa membedakan antar warna merah dan hijau. Jarang dilaporkan laki-laki ataupun wanita mengalami  Buta warna biru[2].

Tabel 2.1 Prevalensi Defek Penglihatan Warna di Dunia

No

Tipe defek penglihatan warna

Laki-laki

Wanita

Total

1

Keseluruhan

-

-

-

2

Keseluruhan Amerika Serikat

-

-

1,3 %

3

Keseluruhan red-green deficiency

7-10%

-

-

4

Red-green deficiency (Caucasians)

8%

-

-

5

Red-green deficiency (Asians)

5%

-

-

6

Red-green deficiency (Africans)

4%

-

-

7

Monochromacy

-

-

-

8

Rod monochromacy (tidak terdapat sel kerucut)

0,00001%

0,00001%

-

9

Dichromacy

2,4%

0,03%

-

10

Protanopia (tidak terdapat sel kerucut tipe L/S-cones absent)

1-1,3%

0,02%

-

11

Deuteranopia (tidak terdapat sel kerucut tipe M/M-cones absent)

1-1,2%

0,01%

-

12

Tritanopia (tidak terdapat sel kerucut tipe S/S-cones absent)

0,001%

0,03%

-

13

Anomalous Trichromay

6,3%

0,37%

-

14

Protanomaly (L-cone defect)

1,3%

0,02%

-

15

Deuteranomaly (M-cone defect)

5%

0,35%

-

16

Tritanomaly (S-cone defect)

0,0001%

0.0001%

-

Tabel 2.1 Prevalensi buta warna di dunia (dikutip dari kepustakaan 2)

 

Menurut studi populasi terhadap defek penglihatan warna pada anak umur 12-14 di Tehran melaporkan, dari total 2058 siswa yang terdiri dari 1136 laki-laki dan 922 perempuan mendapatkan 97 anak yang mengalami defek penglihatan warna yang terdiri dari 93 laki-laki dan 4 anak perempuan. Dari 97 kasus defek penglihatan warna, dapat disampaikan hasil penelitian tersebut dalam tabel dibawah ini. Siswa yang mengalami defek penglihatan warna di periksa menggunakan Ishihara pseudoisochromatic color plates, tidak terdapat riwayat penyakit sistemik, penyakit mata, dan riwayat penggunaan obat yang kronis, pada pemeriksaan mata didapatkan visus 20/20 (emmetropia) dan tidak tampak kelainan fundus.

 

2.3  Klasifikasi Defek Penglihatan Warna

Banyak klasifikasi untuk defek penglihatan warna yang ada, para ahli ada yang mengklasifikasikan defek penglihatan warna menjadi buta warna total, buta warna parsial, buta warna merah-hijau (penderita tidak dapat membedakan warna merah dan hijau) dan buta warna biru kuning (penderita tidak dapat membedakan warna biru dan kuning), dalam penulisan penelitian ini digunakan klasifikasi berdasarkan penyebabnya dengan penjelasan beberapa istilah yang dibuat di bawah ini.

Berdasarkan etiologi atau penyebabnya Defek Penglihatan Warna diklasifikasikan menjadi :

1.      Defek Warna yang didapat

Defek warna yang didapat lebih sering dari varian biru-hijau, dan mengenai pria dan wanita sama seringnya, defek ini mengenai salah satu mata lebih dari yang lain biasanya bervariasi tipe dan keparahannya, yang bergantung dari letak dan sumber patologi ocular melalui oftalmoskopis. [9]

2.      Defek Warna yang diturunkan

Defek warna kongenital herediter hampir selalu merah-hijau (red-green deficiency), defek ini mengenai 2 mata dengan tingkat keparahan yang sama. [9]  Sebagian besar defek warna congenital bersifat resesif  terkait X, serta tipe keparahannya konstan seumur hidup. Ada 3 tipe buta warna yang diturunkan, yakni : monokromat (monochomacy), dikromat (dichromacy) dan anomali trikromat (anomalous trichromacy)

1.      Monochromacy/Monokromat

Biasa disebut buta warna total yang disebabkan oleh kerusakan atau kehilangan sel kerucut (tipe S, L, M), dua dari tiga pigmen warna hilang. Terdapat dua bentuk monokromatisme, walaupun penderitanya tidak memiliki diskriminasi warna sama sekali dengan kata lain  hanya mampu membedakan tingkat kecerahan, akantetapi adalah dua entitas yang berbeda.  Rod monochromacy (Monokromatisme Batang), yakni biasa disebut achromatopsia retina tidak mengandung sel kerucut sama sekali. Tidak adanya sel kerucut menyebabkan gejala-gejala seperti penurunan ketajaman penglihatan, tidak adanya penglihatan warna, dan nistagmus. Kelainan ini diperlihatkan secara jelas oleh elektroretinogram fotopik.  Cone Monochromacy, pada keadaan ini penderita memiliki fotoreseptor kerucut, tetapi semua sel kerucut mengandung pigmen penglihatan yang sama. Penderita tidak memiliki diskriminasi corak warna tetapi ketajaman penglihatan yang normal dan tidak terdapat fotophobia atau nistagmus.

2.      Dichromacy/Dikromat

Dikromat adalah orang-orang yang fotoreseptor kerucutnya hanya mengandung dua dari tiga fotopigmen kerucut. [9] Dikromat juga merupakan kelainan buta warna tingkat moderate.. Kelainan ini meliputi Protanopia, penderita kehilangan sensitivitas sel kerucut terhadap gelombang panjang (long wavelength/L-cones), mereka tidak bisa membedakan warna merah, oranye, dan kuning. Nuetral point berada pada panjang gelombang 492 nm (titik dimana penderita tidak bisa membedakan warna ini dengan warna putih). Penderita hanya melihat satu warna yang mendekati warna kuning. Oranye yang merupakan gabungan warna primer merah dan kuning hanya terlihat kuning oleh penderita. Warna merah dibingungkan dengan warna hitam atau abu-abu tua. Bunga warna merah muda yang merupakan kombinasi warna merah dan biru, terlihat hanya berwarna biru oleh penderita, demikian halnya dengan warna sekunder lain seperti ungu yang merupakan gabungan warna primer merah dan biru, hanya terlihat biru oleh penderita dan lampu lalu lintas yang berwarna merah dilihat padam oleh penderita, [10] dan warna biru-hijau terlihat abu-abu oleh penderita.[18] Seorang protanopia belajar membedakan warna merah dari hijau dan kuning dari tigkat keterangan dan kecerahannya, bukan dari persepsi perbedaan warnanya.  Hal ini dialami 1 dari 100 laki-laki. Deuteranopia (1% dari laki-laki), kekurangan sensitivitas sel kerucut terhadap gelombang medium (medium wavelength/M-cones), juga dikenal sebagi Daltonism. Kelainannya menyerupai pada protanope. Neutal point berada pada 498 nm, sehingga warna yang memiliki panjang gelombang besar, lebih sulit dibedakan dengan warna putih. Warna hijau, kuning dan merah sulit dinilai karena dilihat sama menyerupai warna merah, warna hijau gelap dilihat hitam, sedangkan warna violet, ungu dan biru terlihat sama oleh penderita. Warna hijau terlihat abu-abu oleh penderita. [18] Pada defek penglihatan warna ini, intensitas cahayanya tidak mengalami perubahan. Tritanopia (kurang dari 1% laki-laki). Berkurangnya sel kerucut yang sensitive terhadap panjang gelombang pendek (Short wavelength/S-cones), sehingga penderita tidak bisa membedakan antara warna biru dan kuning.

3.      Anomalous Trichromacy/Anomali Trikromat

Merupakan defisit penglihatan warna yang sering dijumpai. Terdiri dari Protanomaly (1 % laki-laki dan 0.01% wanita), penderita kurang sensitive terhadap warna merah. Deuteranomaly (lebih umum –pada 6 % laki-laki, 0.4 % wanita) penderita lemah terhadap warna hijau, warna hijau tua diasumsikan sebagai warna hitam. Tritanomaly (kejadiannya jarang pada laki-laki dan wanita). Dua pigmen warna normal akantetapi  anomaly pigmen berada dekat dengan pigmen normal, penderita dapat melihat tiga warna (trichromacy) tapi tidak mampu untuk membedakan warna. Pada penderita protanomaly tidak ada spectrum warna yang terlihat abu-abu, warna yang terlihat abu-abu oleh protanope terlihat keabu-abuan oleh penderita protanomaly, sedangkan warna yang terlihat abu-abu oleh deuteranope sulit dibedakan oleh penderita protanomaly.

Individu-individu ini memerlukan tiga warna primer untuk mencocokkan suatu warna yang tidak diketahui tidak seperti orang trikromat normal. Masing-masih trikromat anomaly memiliki defek yang analog dengan kelainan dikromat.

Pada penelitian ini protanomaly diartikan sebagai lemah warna merah, sedangkan deuteranomaly diartikan sebagai lemah warna hijau, bila keadaan protanomaly, deuteranomaly, protanopia dan deuteranopia terjadi bersama-sama disebut sebagai buta warna merah-hijau (red-green deficiency). [2,10]     

 

            Tabel 2.2 Persamaan Nama Klasifikasi

Tipe sel kerucut

Nama generik kelainan

Nama Anomali trikromasi

Nama Dikromasi

L-cone

protan

Protanomaly

Protanopia

M-cone

deutan

Deuteranomaly

Deuteranopia

S-cone

tritan

-

Tritanopia

Tabel 2.2 Persamaan Nama Klasifikasi (dikutip dari kepustakaan 13)

 

2.4  Etiopatogenesis Defek Penglihatan Warna

Banyak tipe dari buta warna, tipe yang paling sering adalah buta warna merah-hijau yang bersifat herediter/genetik karena kerusakan pada photoreseptor oleh karena kehilangan gen pembentuk pigmen warna atau gen tersebut gagal bekerja[5]. Seseorang tidak mampu membedakan warna ketika kehilangan gen ini yang bisa saja terjadi pada salah satu kelompok pigmen sel kerucut (warna hijau, kuning, oranye dan merah), warna – warna ini memiliki panjang gelombang antara 525 – 675 nanometer bisa dibedakan apabila memiliki pigmen warna merah dan hijau, ketika salah satunya hilang,  orang ini  tidak akan dapat membedakan keempat warna tersebut.

Pada laki-laki, gen yang membentuk protein opsin yang bergabung dengan retinol dalam penentuan pigmen warna biru berada pada kromosom 3, sedangkan gen penentu untuk pigmen merah hijau terletak pada lengan panjang kromosom X[6] . Pada penglihatan warna normal pada kromosom X banyak ditemukan gen yang terkait dengan pigmen warna, oleh karena itu jarang ditemukan penderita perempuan, karena paling tidak satu dari dua kromosom X nya merupakan gen normal untuk masing-masing sel kerucut[8].

Buta warna yang didapat bisa karena pengaruh dari kerusakan retina, saraf optik, dan daerah otak bagian atas (cranial) karena daerah otak bagian atas memiliki peran dalam identifikasi warna yang meliputi “parvocellular pathway” dari nuklei lateral geniculate dari talamus, visual area V4 darikorteks penglihatan[2]. Buta warna yang didapat tidak sama dengan buta warna karena pengaruh genetik. Misalnya sangat mungkin mengalami buta warna pada satu porsi dari daerah penglihatan warna namun daerah lainnya berfungsi normal. Penurunan penglihatan warna merupakan indikator sensitif untuk beberapa bentuk dari kelainan makula yang didapat atau penyakit saraf , seperti pada optik neuritis atau tekanan saraf optik oleh karena adanya massa, kelainan penglihatan warna lebih awal muncul dibanding  penurunan tajam penglihatan. Usia juga berpengaruh terhadap kejadian Buta warna, kejadian Buta Warna meningkat pada penderita alzheimer[9].Tidak ada pengaruh neuroendokrin pada kelainan Buta Warna ini[11].

Jenis yang berbeda dari buta warna yang diturunkan terjadi oleh karena kehilangan fungsi sistem sel kerucut secara parsial atau komplit. Ketika satu sistem sel kerucut yang terkena, akan terjadi buta warna dichromacy. Bentuk yang paling sering dari buta warna terjadi oleh karena masalah pada sistem sel kerucut yang sensitif terhadap gelombang cahaya sedang dan panjang sehingga nantinya sulit untuk membedakan warna merah, kuning, hijau. Kelainan ini disebut buta warna merah-hijau. Bentuk buta warna yang lainnya jarang ditemukan, dan bentuk yang paling jarang terjadi adalah buta warna komplit atau buta warna monochromacy, dimana seseorang tidak bisa membedakan warna dari warna abu-abu, serperti yang terlihat dalam siaran televisi hitam putih.

Penyakit genetik buta warna merah-hijau lebih banyak menyerang laki-laki dibandingkan perempuan, karena gen yamg mengkodekan pigmen merah dan hijau berada pada lengan panjang kromosom X, dimana laki-laki hanya punya satu dan wanita memiliki dua (XX). Wanita yang memiliki genotipe 46 XX akan menjadi buta warna, apabila kedua kromosom X mengalami kelainan, sedangkan pada laki-laki 46 XY, akan terjadi buta warna bila satu kromosom X nya mengalami kelainan.

Gen yang mengkode pigmen merah-hijau diturunkan dari laki-laki yang buta warna kepada semua anak perempuan mereka yang heterozigot carrier , dan wanita carrier berkesempatan menurunkan sifat buta warna 50% kepada anak laki-laki mereka. Jika seorang laki-laki buta warna menikah dengan wanita carrier buta warna, anak perempuan mereka kemungkinan akan lahir dengan buta warna.

Buta Warna merah – hijau (red-green deficiency)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diagram 2.1 Pedigree keluarga dengan buta Warna (dikutip dari kepustakaan 2)

 

2.5  Mekanisme melihat tiga warna (Tricolor mechanism)

Proses pengenalan cahaya

                  Setelah cahaya melewati lensa mata kemudian melewati vitreous humor kemudian masuk ke dalam retina dari dalam ke arah luar. Yang pertama melewati sel ganglion, lalu melewati lapisan plexiform (plexiform layer), lapisan inti (nuclear layer) dan limiting membran, sebelum akhirnya menuju sel batang dan sel kerucut[5]. Pigmen warna pada sel kerucut memiliki komposisi kimia yang sama dengan rhodopsin didalam sel batang, perbedaannya hanya terletak pada protein yang diberi nama photopsin yang berbeda dengan scotopsin pada sel batang. Tiga pigmen warna yang berbeda berada pada sel kerucut yang berbeda, yang membuat sel kerucut sensitif pada warna tertentu, pigmen warna ini dinamakan (blue-sensitif pigment, green sensitif pigment,  dan red-sensitif pigment) yang menunjukkan puncak absorbsi pada panjang gelombang 445, 535, 570 nanometer.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            Gambar 2.1 Anotami Retina dan Jalan Cahaya Masuk (dikutip dari kepustakaan 15)

 

Sensitivitas spektrum warna pada sel kerucut

Mata manusia bisa mendeteksi seluruh gradasi warna yang terbentuk dari kombinasi yang berbeda antara cahaya monokromatik merah, hijau, biru. Sensitivitas pada ketiga tipe sel kerucut pada manusia sama dengan kurva penyerapan cahaya dari ketiga tipe pigmen warna pada sel kerucut.  

 

 

 

 

 

 

 

                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       Gambar 2.2  Kurve absorbsi 3 pigmen warna (Dikutip dari kepustakaan 5)

Interpretasi warna oleh sistem saraf

Orang bisa melihat cahaya oranye monokromatik dengan panjang gelombang 580 nanometer karena menstimulasi sel kerucut 99 % dari puncak stimulasi panjang gelombang optimal, dan sinar ini juga menstimulasi sel kerucut pigmen hijau sekitar 42 % tetapi tidak seluruhnya. Jadi perbandingan stimulasi dari ketiga sel kerucut pada keadaan ini merah : hijau : biru = 99 : 42 : 0, sistem saraf menginterpretasikan perbandingan ini sebagai sensasi warna oranye. Pada keadaan lain cahaya biru monokromatik dengan panjang gelombang 450 nanometer tidak menstimulasi pigmen merah sel kerucut dan 97 % menstimulasi pigmen biru sel kerucut, hal ini memberikan perbandingan 0 : 0 : 97 yang diinterpretasikan sebagai warna biru oleh sistem saraf.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.3 Kurva Perbandingan Stimulasi Warna (Dikutip dari kepustakaan 5)

 

 

Persepsi cahaya putih

Stimulasi yang sama besarnya antara pigmen merah, hijau, biru pada sel kerucut memberikan sensasi melihat warna putih

 

2.6  Diagnosis Defek Penglihatan Warna

Diagnosis defek penglihatan warna dibuat berdasarkan anamnesis, dan pemeriksaan penunjang, anamnesis yang sesuai seperti terdapat riwayat buta warna di dalam keluarga atau terdapat riwayat trauma kranial yang menyebabkan kelainan saraf atau makula. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dengan menggunakan Buku Ishihara. Pada Penelitian ini  digunakan Buku Ishihara edisi 38 plate. Plate 1-25 bergambar angka (numeral) yang sebaiknya dijawab dalam waktu tidak lebih dari 3 detik, jika anak tersebut tidak mampu membaca angka, digunakan plate 26 – 38 yang diminta untuk menghubungkan menjadi garis diantara 2 ‘x’ yang harus diselesaikan dalam waktu 10 detik. Pada penelitian dilakukan tes menggunakan 38 plate atau 6 plate, yang mana plate 2,3,4,5 bisa diwakilkan satu plate, plate 6,7,8,9 bisa diwakilkan satu plate, plate 10,11,12,13 bisa diwakilkan satu plate, demikian pula dengan plate 14,15,16,17 dan plate 18,19,20,21. Penggunaan seluruh plate (38 plate) dilakukan bila dtemukan ketidaksesuaian dengan menggunakan 6 plate tersebut.

Pembacaan plate 1-21 menentukan normal atau anak tersebut mengalami defek penglihatan warna. Jika anak tersebut mampu membaca 17 plate atau lebih dengan benar, anak tersebut memiliki penglihatan warna yang normal. Bila hanya mampu membaca 13 plate atau kurang dari 13 plate dengan benar, anak ini tergolong mengalami penurunan penglihatan warna (color vision deficiency) yang di dalam penelitian ini disebut sebagai defek penglihatan warna, keadaan ini bisa juga dilihat jika anak tersebut lebih mudah membaca plate 18,19,20,dan 21 sebagai 5,2,45,dan 73 dibandingkan dengan plate 14,10,13,17. 

Buku ishihara dapat mendiagnosa defek penglihatan warna dengan klasifikasi red-green deficiency, buta warna total, protanopia atau strong protanomaly, protanomaly, deuteranopia atau strong deuteranomaly , dan deuteranomaly. Kelainan tritanomaly tidak dapat dilihat disini. Tes Ishihara digunakan untuk mendiagnosis defek penglihatan warna congenital, untuk mengetahui penyebab yang didapat (saraf, kelainan macula, trauma kranial) perlu dilakukan pemeriksaan lebbih lanjut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.5 (Kartu Gambar Ishihara Dikutip dari kepustakaan 3)

Gambar 2.4 Kartu Gambar Ishihara

(dikutip dari kepustakaan 4)

 

 

Tes ini dilakukan pada setiap anak, kemudian hasil tes dikonfirmasi dengan lembaran keterangan diagnosis buta warna (dilampirkan) untuk memudahkan dalam melakukan klasifikasi jenis defek penglihatan warna yang diderita. Berikut ini gambaran hasil tes isihara pada beberapa tipe buta warna untuk memberikan gambaran.

Normal

Buta Warna Merah (protanopia) / Lemah Warna Merah (Protanomaly)

Buta Warna Hijau (deuteranopia)/Lemah Warna Hijau (Deuteranomaly)

Tritanopia

Buta Warna total (Monochromacy)

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KERANGKA KONSEP PENELITIAN

 

 

 

3.1 Kerangka Konsep Penelitian

 

Kerangka konsep penelitian model Roda (Wheel Model) [10].

Pada Buta Warna, peranan genetik lebih besar pengaruhnya dibandingkan peranan lingkungan (biologis, fisik, sosial), tidak ada penyebab langsung yang berperan dalam buta warna, karena Buta Warna bukan penyakit infeksi. Peranan lingkungan biologis menggambarkan kelainan Buta Warna yang didapat.

 

 

HOST

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Genetic (mutasi gen qX )

 

 

1.  Kelainan makula

2.  Usia

3.  Trauma cranial

4.  Kerusakan saraf optik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                Gambar 3.1 Kerangka konsep penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

METODE PENELITIAN

 

4.1 Tempat dan Tanggal waktu penelitian

      Penelitian dilakukan di SD 1,2,3,4,5,6,7,8,9 Desa Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, dan pengumpulan data dilakukan sebanyak 4 kali, yaitu :

1. tanggal :                  Juli 2007

2. tanggal :         Agustus 2007

3. tanggal :  6 November 2007 

4. tanggal : 18 desember 2007  

4.2 Rancangan (design) penelitian

Design penelitian ini mengambil bentuk Deskriptif Cross Sectional yang sepenuhnya menghitung angka prevalensi kejadian Buta warna pada anak SD di Desa Seraya.

4.3 Populasi

Populasi di dalam penelitian ini adalah anak SD kelas 3-6 di desa Seraya yang tercatat sebagai siswa yang berjumlah

SD 1 sebanyak 67 orang

SD 2 sebanyak 87 orang

SD 3 sebanyak 102 orang

SD 4 sebanyak 64 orang

SD 5 sebanyak 53 orang

SD 6 sebanyak 68 orang

SD 7 sebanyak 97 orang

SD 8 sebanyak 62 orang

SD 9 sebanyak 71 orang

Total semua populasi adalah 671 orang , yang dimana keseluruhan jumlah ini akan dijadikan sebagai sampel penelitian, jadi sampel penelitian sebesar 717 orang, metode pengambilan sampel dengan cara Consecutive Sampling , setiap pasien yang memenuhi kriteria dimasukkan di dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah pasien yang diperlukan terpenuhi.

Kriteria Eksklusi :

1.      Anak tidak bersekolah sewaktu pengambilan data

2.      Anak dinyatakan tidak bersekolah kembali pada waktu pengambilan data

 

Kriteria Inklusi

1.      Seluruh anak SD kelas 3-6 pada saat penelitian

2.      Bersedia untuk diikutkan sebagai subjek penelitian

Selama kurun waktu penelitian didapatkan 671 subjek penelitian dari 9 SD di Desa Seraya. Seluruh subjek dijadikan sampel penelitian yaitu 671 anak, secara lebih jelas dapat diterangkan sebagai berikut.

Anak-anak yang bersekolah di SD 1,2,3,4,5,6,7,8,9 Desa Seraya Tengah periode Juli-Desember 2007

Anak-anak yang memenuhi criteria sebagai subjek penelitian  (671 anak)

 

 

 

 

 

 

Subjek penelitian

671 anak

 

 

 

 

                              Gambar 4.1 Skema Pengambilan Subjek Penelitian

4.4 Definisi Operasional Variabel

Meliputi definisi operasional variabel-variabel yang tercantum dalam lembar observasi yaitu.

1.      Buta Warna atau Defek Penglihatan Warna

adalah gangguan penglihatan warna, ketidakmampuan untuk   membedakan warna yang orang lain mampu untuk membedakannya. Diagnosis dari defek penglihatan warna, bila tidak mampu membaca 13 plate atau kurang dari 13 plate dalam buku ishihara dibaca dengan benar.

2.      Red-green deficiency

Klasifikasi defek penglihatan warna  yang terdiri dari dua tipe kelainan yang terjadi secara bersamaan, tipe protan (protanopia, protanomaly)  dan tipe deutan (deuteranopia, deuteranomaly). Diagnosis dibuat berdasarkan  tabel tes konfirmasi Ishihara yang dilampirkan, dimana pada plate 1-10 akan terbaca 12,3,5,70,35,2,5,17,21 yang orang normal membacanya 12,8,6,29,57,5,3,15,74.

3.      Deuteranopia

Salah satu klasifikasi defek penglihatan warna, dimana bagian spektrum yang normal terlihat sebagai warna hijau terlihat abu-abu, dua spektrum warna yang berbeda terlihat sebagai satu warna. Diagnosis dibuat melalui pembacaan plate 22 sampai 25, pada penderita dengan kelainan ini hanya bisa membaca 2,4,3,9. (dilampirkan)

4.      Status gizi

Penetuan statu gizi yang digunakan di dalam penelitian, dihitung berdasarkan BB/TB2 (Kg/Meter2) menggunakan kategori IMT (Indeks Massa Tubuh) yang dibagi menjadi 3 kategori utama untuk memudahkan pengelompokkan yaitu :

Status Gizi Kurang, bila dari penghitungan di atas berada pada nilai < 18,5

Status Gizi Normal, bila dari penghitungan di atas berada pada nilai 18,5 – 25,0

Status Gizi Lebih, bila dari penghitungan di atas berada pada nilai > 25,0

5.      Visus

Merupakan ketajaman penglihatan yang pengukurannya menggunakan kartu Snellen, penilaian visus terbagi menjadi miopia dimana penderita tidak dapat membaca kartu snellen dengan tepat pada jarak 6 meter (tidak bisa melihat jauh), hipermetropia (tidak bisa melihat dekat), astigmatisme, kelaianan visus oleh karena bentuk kornea.

6.      Daerah terisolir

Daerah yang sulit dijangkau oleh kendaraan atau terletak jauh dari jalan raya, kota (pusat mobilisasi masyarakat).

 

4.5 Alat dan Cara Pengumpulan Data

4.5.1        Alat

Alat ukur yang digunakan secara umum adalah dengan lembaran observasi (kuisioner) yang diisi oleh peneliti berdasarkan hasil pemeriksaan pasien oleh residen Mata di Desa Seraya.

4.5.2        Cara Pengumpulan Data

4.5.1.1   Prosedur Pengumpulan Data

Data dikumpulkan dengan mengisi lembaran observasi oleh peneliti dibantu oleh residen Mata, serta teman-teman yang ikut didalam penelitian pada bagian Ilmu Kesehatan Mata Rs Sanglah Denpasar. Anak-anak yang memenuhi kriteria, diminta kesediaannya untuk dijadikan subjek penelitian. Setelah anak tersebut menjawab pertanyaan kuisioner, kemudian anak tersebut diminta untuk membaca angka-anaka pada buku Isihara (Plate Isihara),jika anak tersebut mengalami kesulitan atau salah dalam membaca angka tersebut, dicatat dalam lembaran diagnosa buta warna (dilampirkan), oleh residen Mata akan diklasifikasikan kelainan penglihatan warna tersebut.

Pemilihan Subyek Penelitian

Penjelasan mengenai pengisian Kuisioner

Pengisian Kuisioner

Analisis Hasil Penelitian

 

 

4.5.1.2 .Penilaian Status Gizi, Visus, Letak SD

Status gizi anak dinilai dengan membandingkan berat badan dan tinggi badan, yang kemudian diklasifikasikan dalam rentangan status gizi kurang, normal, dan tinggi yakni, rendah bila kurang dari 18,5, normal bila berada dalam rentangan 18,5 – 25,0 dan tinggi bila lebih dari 25. Penilaian visus dilakukan melalui tes ketajaman penglihatan dengan membaca kartu Snellen yang berjarak 6 meter, kemudian diklasifikasikan jika anak tersebut normal, miopi, hipermetropia, atau astigmatisme. Letak SD digunakan pula sebagai pembanding yang didapatkan dengan menghitung jarak antara kota dan masing-masing lokasi SD tersebut.

 

                                               

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                        BAB V

                                                            HASIL PENELITIAN

 

5.1 Karakteristik Subjek Penelitian

      Dari 671 Subjek penelitian didapatkan 318 anak laki-laki (47,4%) dan 353 anak perempuan (52,6%), menurut status gizi , didapatkan 603 anak dengan gizi kurang (89,9%) 68 anak dengan gizi sedang (10,1%), Dan tidak ada yang memiliki gizi lebih (0%).

 

Tabel 5.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Karakteristik Subjek

Jumlah Anak

Jenis Kelamin

Laki-laki

Perempuan

318 (47,4%)

353 (52,6%)

Status Gizi

Kurang

Normal

Lebih

603 (89,9%)

68 (10,1%)

0 (0%)

Nama SD

SD 1

SD 2

SD 3

SD 4

SD 5

SD 6

SD 7

SD 8

SD 9

67(9,9%)

87(12,9%)

102(15,2%)

64(9,5%)

53(7,9%)

68(10,1%)

97(14,5%)

62(9,2%)

71(10,6%)

Visus

Miopia

Hipermetropia

Astigmatism

Emetropia

27(4%)

8(1,2%)

1(0,2%)

613(91,4%)

 

 

 

5.2 Distribusi Defek Penglihatan Warna

      Dari 671 subjek penelitian didapatkan 22 anak dengan defek penglihatan warna atau buta warna (3,3%),yang didapat dari penghitungan (22/671)x100%=3,3%, diantaranya didapatkan red-green deficiency  sebanyak 20 anak (3%) yang didapat dari [(20/671)x100%=3%], deuteranopia sebanyak 2 anak (0,3%). Seperti tampak jelas pada tabel berikut.

 

Tabel 5.2 Distribusi Defek Penglihatan Warna Subjek Penelitian

Defek Penglihatan Warna

Jumlah Anak

Prosentase

Red-Green Deficiency

20

3%

Deuteranopia

2

0,3%

Total

22

3,3%

 

 

                 Gambar 5.1 Sebaran Defek Penglihatan Warna Subjek Penelitian

 

Berdasarkan Jenis Kelamin dari 22 anak dengan defek penglihatan warna didapatkan 19 anak laki-laki (5,9%), jumlah ini didapat melalui penghitungan [jumlah anak laki-laki yang mengalami kelainan dibagi jumlah seluruh anak laki-laki dikali 100% ((19/318)x100%=5,9%)] dan perempuan 3 anak (0,8%). Red-green deficiency terjadi pada 17 anak laki-laki (5,3%), didapat dari [(17/318)x100%=5,3%] dan 3 anak perempuan (0,8%), Deuteranopia terjadi pada 2 orang anak laki-laki (0,6%) dan 0 pada anak perempuan (0%), selanjutnya secara lebih rinci dapat dilihat dalam tabel berikut.  

 

Tabel 5.3 Distribusi Defek Penglihatan Warna Subjek Penelitian Menurut Jenis Kelamin

Defek Penglihatan warna

Jenis Kelamin

Laki-laki

Perempuan

Red-Green Deficiency

17(5,3%)

3(0,8%)

Deuteranopia

2(0,6%)

0(0%)

Total

19(5,9%)

3(0,8%)

 

Dari 673 Subjek penelitian didapatkan distribusi Defek Penglihatan Warna menurut keadaan status gizinya, yakni seluruh penderita red-green deficiency bergizi kurang (3,3%) didapat dari penghitungan [(20/603)x100%=3,3%], Deuteranopia 1 anak mengalami gizi kurang (0,2%) dan 1 orang (1,5%) status gizinya normal. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Tabel 5.4 Distribusi Defek Penglihatan Warna Menurut Status Gizi

Defek Penglihatan Warna

Status Gizi

Gizi kurang

Normal

Gizi Lebih

Red-Green Deficiency

20 (3,3%)

0(0%)

0(0%)

Deuteranopia

1(0,2%)

1(1,5%)

0(0%)

Total

21 (3,5%)

1(1,5%)

0 (0%)

 

Dari 671 Subjek penelitian yang diambil dari 9 Sekolah Dasar di Desa Seraya yakni 1 anak dari SD 1 yang mengalami defek penglihatan warna (1,5%) didapat melalui penghitungan [(1/67)x100%=1,5%],  1 anak dari SD 2 yang mengalami defek penglihatan warna (1,1%), 2 anak dari SD 3 (1,9%), 8 anak dari SD 4 (0,1%), 2 anak dari SD 5 (3,8%), 2 anak dari SD 6 mengalami defek penglihatan warna (2,9%), 3 anak dari SD 7 (3,1%), 0 anak dari SD 8 (0%), serta 3 anak dari SD 9 (4,2%).  Didapat pula data jarak masing-masing SD terhadap pusat kota karangasem, yakni jarak SD 1 dengan pusat kota Karangasem adalah 10,5 Km, SD 2 dengan pusat kota 11 Km, SD 3 dengan pusat kota jaraknya 10,3 Km, SD 4 dengan kota berjarak 11,5 Km, SD 5, SD 6 dan SD 7 dengan ke kota sama 12,5 Km, jarak SD 8 dengan kota 13 Km, yang terakhir, jarak SD 9 dengan kota 14 Km, SD 9 ini berada di lereng bukit. Melalui data ini diperoleh SD 9 terletak paling jauh dari jalan raya dan dapat disimpulkan letaknya lebih terpencil jika dibandingkan SD lainnya.  Secara lebih rinci untuk data masing-masing SD dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Tabel 5.5 Jarak tempuh SD ke Kota Karangasem

 

 

SD 1

SD 2

SD 3

SD 4

SD 5

SD 6

SD 7

SD 8

SD 9

Jarak

10,5

11

10,3

11,5

12,5

12,5

12,5

13

14

 

 

Tabel 5.6 Distribusi Defek Penglihatan Warna  Menurut Nama SD

Defek

SD 1

SD 2

SD 3

SD 4

SD 5

SD 6

SD 7

SD 8

SD9

Red-Green Deficiency

1

1

1

7

2

2

3

 

3

Deuteranopia

 

 

1

1

 

 

 

 

 

Total

1(1,5%)

1(1,1%)

2(1,9%)

8(0,1%)

2(3,8%)

2(2,9%)

3(3,1%)

0(0%)

3(4,2%)

 

Berdasarkan visusnya, maka dari 22 anak yang mengalami defek penglihatan warna, 1 orang menderita myopia (3,7%) didapat dari [(1/27)x100%=3,7%]. Untuk keterangan lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut.

 

Tabel 5.7 Distribusi Defek Penglihatan Warna Menurut Penilaian Visus

Defek Penglihatan Warna

Emmetropia

Miopia

Hipermetrop

Astigmatism

Red-Green Deficiency

19

1

 

 

Deuteranopia

2

 

 

 

Total

21(3,4%)

1(3,7%)

 

 

 

 

 

BAB VI

    PEMBAHASAN

 

            Pemilihan subjek penelitian yang diambil dari kelas 3 sampai kelas 6 SD di Desa Seraya, yang usianya berkisar antara 10-12 tahun dikarenakan dari kemampuan membaca serta pengenalan huruf dan angka, dimana anak dalam usia tersebut diasumsikan mampu untuk membaca dan mengenal huruf yang digunakan dalam tes defek penglihatan wana. Dari hasil penelitian ini jumlah anak perempuan lebih besar dibandingkan dengan jumlah anak laki-laki yaitu terdapat 318 anak laki-laki (47,4%) dan 353 anak perempuan (52,6%). Sesuai dengan tabel 5.2 prevalensi kasus defek  penglihatan warna sebesar 3,3% . Hal ini berbeda dengan data prevalensi kasus buta warna di dunia yang menunjukkan prevalensi kasus buta warna sebesar 1,3 %. Perbedaan ini mungkin terjadi karena jumlah subjek penelitian yang diambil sedikit. Bila dilihat data sebaran buta warna menurut jenis kelaminnya, didapatkan anak yang mengalami defek penglihatan warna lebih besar proporsinya pada anak laki-laki, yakni 19 anak (5,9%) dibandingkan pada anak perempuan  yakni 3 anak (0,8%). Hasil ini konsisten dengan data prevalensi defek penglihatan warna di dunia yang dilihat dari keseluruhan data jumlah proporsi anak laki-laki yang mengalami kelainan buta warna lebih besar dari pada anak perempuan, meskipun ada beberapa data yang menunjukkan jumlah yang sama. Demikian halnya di Iran, prevalensi defek penglihatan warna lebih besar terjadi pada anak laki-laki 8,18% dibandingkan dengan anak perempuan 0,43%. [14]  Hal ini dikarenakan karena gen defek penglihatan warna bersifat resesif dan terkait kromosom X (X-linked recessive) sehingga jarang ditemukan pada penderita perempuan, karena paling tidak satu dari 2 kromosom X-nya merupakan gen normal untuk masing-masing sel kerucut. [8] Jika ditelaah lebih jauh lagi, kasus red-green deficiency yang paling banyak (3%), hal ini konsisten dengan data prevalensi defek penglihatan warna di dunia dimana kasus terbesar (7-10%) merupakan red-green deficiency, namun tidak menunjukkan hal yang serupa dengan penelitian di Iran yang justru tidak mendapatkan kasus red-green deficiency (0%), justru kasus terbesar pada kelainan deuteranomaly (4,93% pada laki-laki, dan 0,43% pada perempuan). Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi penulis, adakah keterkaitan letak geografis terhadap jenis defek penglihatan warna, sehingga pada daerah tertentu cenderung didapatkan jenis defek penglihatan tertentu.

Bila dilihat sebaran buta warna menurut status gizinya didapatkan 21 anak yang menderita defek penglihatan warna (3,5%) memiliki status gizi yang kurang, dengan kata lain sebagian besar anak yang menderita defek penglihatan warna kecenderungan memiliki status gizi yang kurang. Belum ada data yang mencantumkan status gizi sebagai faktor resiko terjadinya defek penglihatan warna, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Dalam kaitan dengan penelitian ini, status gizi anak dipengaruhi salah satunya oleh defisiensi vitamin A, dimana bentuk aktif vitamin A sebagian berupa asam retinoat yang akan berperan dalam ekspresi gen. Di retina mata retinol ini diubah menjadi 11 cis retinal-dehida yang mampu berkonyugasi dengan opsin membentuk rhodopsin yang berperan dalam proses penglihatan. [16] Perlu didapatkan data yang lebih lengkap mengenai keterkaitan defisiensi vitamin A terhadap kejadian defek penglihatan warna pada anak, karena seperti dijelaskan sebelumnya bahwa vitamin A terkait dalam pembentukan sel batang, yang berperan dalam proses penerimaan cahaya yang diperlukan untuk penglihatan warna, sehingga pada nantinya dapat disimpulkan apakah defisiensi vitamin A dapat menimbulkan defek penglihatan warna.

 Dilihat dari tabel 5.6 sebaran defek penglihatan warna menurut SD tempat ia bersekolah didapatkan proporsi yang terbesar pada SD 9 Seraya, yakni 4,2%, ada kecenderungan jumlah terbesar defek penglihatan warna ada pada SD 9 dengan letak SD 9 dari kota yang paling jauh dari SD lainnya, yakni 14 kilometer yang berada di atas bukit dan sulit untuk dijangkau (terisolir) hal ini konsisten dengan pernyataan bahwa kasus defek penglihatan warna terjadi lebih besar terdapat pada daerah yang terisolir. [3] Hal ini dapat terjadi dengan kemungkinan terdapatnya kasus defek penglihatan warna sebelumnya pada daerah ini, oleh karena kurangnya pengetahuan, maka angka kejadiannya semain meningkat. Data sebaran kasus defek penglihatan warna pada tabel 5.7 menyimpulkan kecenderungan defek penglihatan warna terjadi pada visus normal (emmetropia), akantetapi hal ini tidak berarti jika seseorang mengalami kelainan defek penglihatan warna justru mengalami perbaikan visus (tajam penglihatan) karena tidak terbukti sel kerucut  yang mengalami kelainan, akan digantikan oleh sel batang, sehingga penglihatan seorang dengan defek penglihatan warna mendekati emmetropia. [7] Data penelitian yang didapat, hanya 1 orang dari keselurahan yang mengalami defek penglihatan warna mengalami (3,7%) yang menderita myopia dari penilaian visus yang dilakukan, mungkin didapatkan kasus defek penglihatan warna pada kejadian ini, oleh karena anak tersebut mengalami penurunan tajam penglihatan, sehingga tidak mampu secara jelas untuk mengenali kartu Isihara, pada saat dilakukan tes.

 

 

 

 

BAB VII

      PENUTUP

 

7.1 Simpulan

1.      Dari 671 Subjek penelitian didapatkan 22 anak (3,3%) yang mengalami defek penglihatan warna, yakni red-green deficiency 20 anak (3%), Deuteranopia 2 anak (0,3%), tidak terdapat anak yang mengalami protanopia, tritanopia dan tritanomaly, protanomaly, deuteranomaly dan monochromacy atau buta warna total.

2.      Berdasarkan dari jenis kelaminnya, maka dari 22 anak (3,3%) yang mengalami defek penglihatan warna, 19 anak (5,9%) merupakan anak laki-laki dan 3 anak (0,8%) merupakan anak perempuan.

3.      Berdasarkan kondisi status gizinya dari 22 anak yang mengalami defek penglihatan warna, 21 anak (3,5%) mengalami status gizi yang kurang, 1 anak (1,5%) memiliki status gizi normal, dan tidak ada anak yang memiliki gizi lebih.

4.      Berdasarkan tempat anak bersekolah dari 22 anak yang mengalami defek penglihatan warna, 1 anak (1,5%) berasal dari SD 1, 1 anak (1,1%) dari SD 2, 2 anak (1,9%) dari SD 3, 8 anak (0,1%) dari SD 4, 2 anak (3,8%) berasal dari SD 5, 2 anak (2,9%) dari SD 6, 3 anak (3,1%) dari SD 7, tidak ada (0%) yang berasal dari SD 8, 3 anak (4,2%) dari SD 9.

5.      Berdasarkan penilaian visus pada  22 anak yang mengalami defek penglihatan warna, 21 anak (3,4%) emmetropia dan 1 anak (3,7%) menderita myopia.

6.      Terdapat kecenderungan kejadian defek penglihatan warna lebih besar pada laki-laki, pada keadaan status gizi yang kurang, letak geografis SD tempat anak bersekolah yang jauh (terisolir) dengan kemungkinan terdapat kasus defek penglihatan warna sebelumnya pada daerah tersebut.

7.      Kelemahan penelitian :

1.      Jumlah subjek penelitian yang kecil dan terbatas, sehingga kurang mewakili gambaran populasi yang sebenarnya.

2.      Data kuisioner yang tidak lengkap, sehingga kurang memberikan gambaran sebenarnya pada keadaan populasi.

7.2 Saran

1.      Pengambilan data melalui quisioner hendaknya disertai pertanyaan yang lebih spesifik dan dengan disertai wawancara yang lebih mendalam serta alangkah baiknya pemeriksaan dilakukan atau dilihat sendiri pelaksanaan oleh peneliti dan semua kuisioner diisi oleh peneliti.

2.      Sebelum pengambilan data hendaknya dilakukan penyamaan persepsi dari maksud pertanyaan kuisioner, sehingga memudahkan dalam pengolahan data.

3.      Untuk mendapatkan hasil yang baik, diharapkan jumlah subjek penelitian yang lebih banyak, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut, dimana jumlah subjek penelitian yang lebih banyak dan di tempat yang berbeda untuk memperkaya data prevalensi kasus buta warna.

4.      Karena faktor herediter memiliki pengaruh besar dengan kejadian defek penglihatan warna, setidaknya dalam kuisioner, patut ditanyakan lebih pasti menenai riwayat keluarga apakah ada yang menderita defek penglihatan warna.

5.      Faktor trauma pada retina misalnya akibat kecelakaan dapat menyebabkan defek penglihatan warna, sehingga perlu ditanyakan tentang riwayat tersebut, sehingga dapat diketahui jumlah dari penyebab yang idiopatik selain dari penyebab herediter.

6.      Perlu dilakukann penelitian lebih lanjut untuk meneliti keterkaitan defisiensi vitamin A terhadap kejadian buta warna, untuk melanjutkan data kecenderungan kasus defek penglihatan warna terjadi pada anak yang memiliki status gizi yang kurang.

7.      Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah letak geografis mempengaruhi kecenderungan terjadinya jenis defek penglihatan warna tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

1.      Sitorus RS,et al.Cause and temporal trends of Childhood Blindness in Indonesia:Study at School for The Blind in Java.British Journal of Ophthalmology [online serial] 2007;91:1109-1113.Available from : http://www.bmjjournals.org. Accesed February 4, 2008. (Abstract)

 

2.      Anonim.2008.Color blindness (The Free encyclopedia).Available at : http://en.wikipedia.org/wiki/Color_blindness Accesed february 4

 

3.      Vaughan, Daniel, et al. Lange Book : General Ophthalmology,15th edition. Appleton   and Lange ; 1999.pp.44,45,196

 

4.      Chern, Kenneth C. A Rapid Treatment Guide.Mc Graw-Hill Companies ; 2002.pp.40

 

 

5.      Guyton,Arthur C and Hall, John E.Guyton and Hall:Human Physiology and mechanisms of Disease,6th edition. Saunders ; 1997. pp.407-413

 

6.      Anonymous.1990.Editorials : Gene and Colour Blindness.The lancet;Feb 3 1990;335,8684;Proquest Science Journals pg .263 (2 screens).Available from : http://proquest.umi.com/pqdweb.Accesed February 12, 2008

 

7.      Simunovic M.P.,et al.2001.Is Color Vision Deficiency an Advantage Under Scotopic Condition.IOVS,December 2001vol.42 No.13.available from : http://www.highwire.org .Accesed Febrery 12, 2008

 

8.      Lipkin, Richard.1995.Document View (news) : Additional Genes may Affect Color Vision. Science News.Washington.Feb 18,1995 vol;147;lss.7;pg.100 (1 page).Available from : http://proquest.umi.com/pqdweb.Accesed February 12, 2008

 

9.      Pache, M,et al.2003.Colour Vision in alzheimer’s Disease.Age and Aging ;32 :422-426.British Geriatrics Society. Available from : http://www.highwire.org .Accesed February 12, 2008

 

10.  Sastroasmoro,S.1995.Dasar-Dasar Metodologi Klinis.Binarupa Aksara.Jakarta.

 

11.  Ruberg F.L.1996.Melatonin Regulation in Humans With Color Vision Deficiencies.Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism vol.81, No.8.USA.Endocrine Society. Available from : http://www.highwire.org .Accesed February 12, 2008

 

12.  Vaughan, Daniel G.,et all.2002.Oftalmologi Umum.Edisi 14.Widya Medika.Jakarta

 

13.  Anonim.Color Blindness.www.webexhibits.org. Accesed February 12, 2008

 

14.  M Modarres, M Mirsamadi, and GA Peyman.Prevalence of congenital color deficiencies in secondary-school students in Tehran. Int Ophthalmol, January 1, 1996; 20(4): 221-2..Available from:. http://www.nejm.org. Accesed July 17, 2008. (Abstract)

 

15.  Guyton,Arthur C and Hall, John E.Guyton and Hall:Human Physiology and mechanisms of Disease,11th edition. Saunders ; 1997. pp.627

 

16.  Anonim.2003. Akibat Defisiensi Vitamin A Xerophtalmia Merenggut Penglihatan BalitaAvailable at : www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/0613/kes1.

 

17.  Anonim. Body Mass Index. Available at http://www.cdc.gov/nchs/datawh/nchsdefs/bmi.htm .Accesed July 28, 2008

 

18.  Ishihara, Shinobu.The Series of Plates Designed as a Test For Colour-Deficiency.38 Plates Edition.Kanehara Trading Inc.Tokyo Japan.pp.1-9.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 1

                                    FORMULIR ANAK SEKOLAH DASAR

 

 

 

A.IDENTITAS                                                                        B. STATUS GIZI

1.   Nama                      :                                               7. Berat Badan             :           kg

2.   Umur (tahun)            :                                               8. Tinggi Badan                        :           m

3.   Kelas                       :                                               9. Indeks Massa Tubuh            :           kg/m3(diisi

4.   Jenis Kelamin           :                                               saat tabulasi)

5.   Agama                     :                                                           a. rendah < 18,5

6.   Suku                        :                                                           b. normal : 18,5 – 25,0

c. tinggi > 25,0

C. PERILAKU/KEBIASAAN :

10. Belajar di rumah dilakukan saat :                             14. Berapa kali makan dalam sehari :

a)      sore hari           = lanjut ke pertanyaan no 12                 a. sekali

b)      malam hari        = lanjut ke pertanyaan no 11                 b. dua kali

11.Saat belajar memakai alat bantu penerangan apa :                 c. tiga kali

a)      Lampu Listrik                                                   15. Kebiasaan makan sayur :

b)      Lampu Minyak Tanah                                                   a. Ya

12. Apakah adik pernah memakai kacamata :                            b. Tidak

a)      Ya = lanjut ke pertanyaan no 13                                   16. Kebiasaan menonton TV (berapa lama jam/hr)

b)      Tidak                                                                           a. 1-2 jam/hari

13. Apakah orangtua (ayah atau ibu) memakai kacamata :         b. 3-5 jam/hari 

a)      Ya

b)      Tidak

 

ANAMNESIS

KELUHAN UTAMA

1.      Apakah ada keluhan kabur

a)      Ya  satu atau dua mata = ke pertanyaan no.2

b)      Tidak         ke pertanyaan no 3

2.      Sejak kapan timbul keluhan kabur :

a)   Mendadak (tiba-tiba)

b)   Pelan-pelan

3.      Adakah keluhan melihat ganda (doubel)/ benda berkelok :

4.      Adakah rasa nyeri (sakit) pada mata hingga kepala :

a)   Ya

b)   Tidak

 

Keluhan Lain :

RIWAYAT PENYAKIT SEBELUMNYA      :

 

RIWAYAT KELUARGA                                :

 

RIWAYAT OPERASI MATA SEBELUMNYA :

 

 

Lampiran 2

PEMERIKSAAN OFALMOLOGI

1.      TAJAM PENGLIHATAN (VISUAL ACUITY/VA)

 

 

UCVA

BCVA

OD

 

 

OS

 

 

 

2.      SEGMEN ANTERIOR DAN POSTERIOR

 

OD

Pemeriksaan

OS

 

Posisi/Hirschberg

 

 

 

 

 

 

Pergerakan bola mata

 

 

Tekanan bola mata (TIO)

 

 

Palpebra

 

 

Konjungtiva

 

 

Kornea

 

 

Bilik mata depan

 

 

iris

 

 

Pupil

 

 

Lensa

 

 

Vitreus

 

 

funduskopi

 

            PEMERIKSAAN BUTA WARNA :

            PEMERIKSAAN KONTRAS SENSITIVITAS :

 

3.      DIAGNOSIS                           :

4.      KOMPLIKASI                        :

5.      PLANNING/RENCANA        :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 3

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA

RS SANGLAH DENPASAR

 

                                    FORMULIR PEMERIKSAAN BUTA WARNA

                                    NO :

 

1.   Nama          : …………………………………………………………Laki/Perempuan :

Umur           : ……………………………………………Jumlah keluarga :………(Lk../Pr..)

Pekerjaan : ……………………………………………..Alamat     :………………………

 

2.   Kesanggupan melihat            :

VOD           : …………………..CC :………….. VOS :………….CC :………………

 

3.   Pemeriksaan warna

No

Normal

Red Green def.

Total weakness

Baca

No

Normal

Protan

Deutran

Baca

Strong

Mild

Strong

Mild

1

12

12

12

 

22

26

6

(2)6

2

2(6)

 

2

8

3

X

 

23

42

2

(4)2

4

4(2)

 

3

6

5

X

 

24

35

5

(3)5

3

3(5)

 

4

29

70

X

 

25

96

6

(9)6

9

9(6)

 

5

57

35

X

 

 

6

5

2

X

 

 

7

3

5

X

 

 

8

15

17

X

 

 

9

74

21

X

 

 

10

2

X

X

 

 

11

6

X

X

 

 

12

97

X

X

 

 

13

45

X

X

 

 

14

5

X

X

 

 

15

7

X

X

 

 

16

16

X

X

 

 

17

73

X

X

 

 

18

X

5

X

 

 

19

X

2

X

 

 

20

X

45

X

 

 

21

X

73

X

 

 

Diagnosis :

1.      Normal                                                             4. Lemah Warna Merah

2.      Buta Warna Hijau                                                         5. Lemah Warna Hijau

3.      Buta Warna Merah                                                       6. Buta Warna Total

 

4.      Penyakit Mata :        1. ……………………….

 

                              2………………………..

Yang Bersangkutan                                                       Denpasar,…

                                                                                                Dokter yang memeriksa

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Probiotik, Yoghurt dan Manfaatnya dalam Menjaga Keseimbangan flora normal pencernaan

Probiotik, Yoghurt dan Manfaatnya dalam Menjaga Keseimbangan flora normal  pencernaan

Abstrak

            Saluran pencernaan manusia mengandung kurang lebih 400 spesies bakteri. Normalnya jumlah bakteri yang menguntungkan serta yang merugikan sama, akantetapi karena banyak factor yang mempengaruhi keeimbangan bakteri ini, maka ketika jumlah bakteri yang merugikan meningkat akan timbul penyakit. Probiotik dengan berbagai kemasan produknya saat ini bermanfaat dalam menyeimbangkan bakteri tersebut dengan berbagai mekanisme kerja. Efek lama mengkonsumsi probiotik tidak menunjukkan efek yang signifikan, meskipun dapat berbahaya pada keadaan tertentu. Petunjuk dan keamanan probiotik digunakan agar konsumen tidak mudah dirugikan pada suatu produk probiotik.

Kata Kunci

            Probiotik, Yoghurt, Keseimbangan flora normal pencernaan

Pendahuluan

            Berbagai produk probiotik banyak dipasarkan dalam bentuk sediaan dengan nama Dahi (India), Gefilus, Valio, Riihimaki, Finland(Finlandia), dan Yoghurt ataupun sebagai tambahan susu formula bayi maupun dewasa. Beberapa penelitian menyebutkan probiotik bermanfaat bagi kesehatan saluran pencernaan.

            Sesungguhnya,probiotik ada di saluran pencernaan sebagai flora normal, namun keberadaannya bergantung pada substrat yang terkandung di dalam makanan. Konsumsi probiotik sekaligus prebiotik secra bersamaan dapat menstimulasi pertumbuhan probiotik. Oleh karena probiotik bermanfaat bagi kesehatan, tidak salah banyak konsumen mengincar produk susu formula yang dilengkapi kandungan probiotik.

            Probiotik didefinisikan oleh FAO dan WHO sebagai mikroorganisme hidup yang apabila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup akan bermanfaat bagi kesehatan, mikroorganisme ini tidak bersifat toksik maupun pathogen.(1)

            Yoghurt sendiri merupakan salah satu produk makanan yang mengandung probiotik, yang didefinisikan oleh Codex Alimentarius tahun 1992 sebagai produk susu koagulasi, hasil dari fermentasi asam laktat oleh lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus.(5)

            Penelitian tentang probiotik, penemuan strain-strain baruterus dilakukan karena kenaikan level Multi Drug Resisten (MDR) diantara mikroorganisme yang pathogen biasanya di Rumah Sakit, serta penelitian yang menunjukkan keefektifan dan kemanjuran dari penggunaan probiotik membuat penelitian probiotik masih terus dilakukan.

 

Probiotik

            Probiotik dapat berupa jamur ataupun bakteri seperti : Bifidobacterium longum, B. breve, B. infantis, B. bifidum, B. adolescentis, Lactococcus cremoris, L. lactis, Streptococcus thermophillus, Enterococcus faecium, Lactobacillus rhamnosus, L. acidophilus, L. casey, L. bulgaricus, L.gasseri, Sacharomuces baulardii, S. creviceae, bakteri dan jamur yang tergolong probiotik ini memiliki dinding sel muramylpepetidase (strain lactobacillus) memiliki efek pirogenik dan antitumor, layaknya strain bakteri lainnya, strain probiotik ini memiliki endotoxic lipopolysakarida, peptidoglikan, Lipotheichoic acid yang berguna sebagai imunomodulator. Yoghurt berfungsi untuk memenuhi nutrisi yang dipengaruhi oleh factor lingkungan (genetic dan umur mamalia penghasil susu), proses fermentasi (temperature, panas dan strain bakteri yang duiakai) dan sumber susu solid yang diakai sebelum fermentasi.

 

Roduk robiotik di dalam kemasan

            Produk probiotik banyak dipasarkan dalam bentuk kemasan kapsul atau microencasulation dan susu. Beberapa produk dikenal dengan nama Dahi (India), Gefilus, Valio, Riihimaki, Finland (Finlandia) dan yoghurt.

 

Yoghurt

            Yoghurt di dalam tiap sajinya daat mensekresikan vitamin yang larut di dalam air (Vitamin B, B12, Folat), lactose dalam jumlah yang sediikit, protein, liid, dan mineral. Kandungan vitamin di dalam yoghurt lebih nayak berklurang akibat roses fermentasidariada kandungan mineral, vitamin B ada yang digunakan mauun disintesis tergantng dari strain bakterio tersebut.

            Di dalam usus normalnya, lactose dihodrolisis oleh enzyme lactase yang dikeluarkan oleh brush boorder usus, akantetapi dengan konsumsi yoghurt, lactose sebelumnya terdapat pada susu sebelum prpses fermentasi, diubah oleh lactase yang diproduksi oleh oleh probiotik di dalam yoghurt, sehingga begityu sampai di saluran pencernaan bisa langsung disera, hal ini membantu orang yang tidak bisa mencerna lactose, meskipun di dalam tiap saji yoghurt mengandung lactose yang daat ditoleransi dibandingkan susu biasa.

            Kandungan protein (terutama asamn amino rolin dan glisin) lebih besar dibandingkan dengan susu karena aktivitas roteolitik yang dimiliki oleh probiotik.

            Yoghurt sebenarnya rendah lemak, walauun conjugated linoleic acid dihasilkan oleh kerja probiotik di dalam saluran pencernaan.

            Mineral yang terdapat di dalam yoghurt, yakni kalsium, magnesium, kalsium dibantu enyeraannya oleh H asam dan vitamin D walauun yoghurt tidak mengandung vitamin D, akantetai bioavailabilitas vitamin D di dalam yoghurt sangat tinggi.(5)

 

Flora normal saluran pencernaan

            Saluran pencernaan manusia dihuni oleh komunitas besar mikroorganisme pathogen dan nonpathogen kurang lebih 40 spesies. Banyak beragam jumnlah mikroorganisme meningkat dari 1 pangkat 23 di lambung sampai 10 pangkat 11—12 CFU/gram di usus.(2) Total pada orang dewasa sebanayk 1 pangkat 14 bakteri. Koloni bakteri ini diawali dari lahir dan keseimbangan jumlahnya diengaruhi oleh enggunaan antibiotik, tingkat kebersihan, sesies lain yang ada di dalam usus, seerti saat masih menyusui, jumlah E. Coli menurun seiring dengan jumlah bifidobacteria yang meningkat. Dalam usus bayitrersebut jumlah ini terus berubah samai ketika dewasa jumlah ini menjadi stabil. Flora di dalam usus ini aktif bermetabolisme berinteraksi dengan epitel usus, sistem imun, CNS, sistem endokrin, aktivitasnya menyeruai hati.(2)

            Mikroorganisme tersebut ada yang bernmanfaat mauun yang merugikan seerti bifidobacteria dan lactobacilli yang bermanfaat dan clostridium daaty merugikan kesehatan. Normalnya terdaat keseimbangan keberadaan mikroorganisme yang merugikan kesehatan tersebut. (2) Ketidakseimbangan diengaruhi oleh infeksi Diare, infeksi virus dan imunoinflamatori (allergy, IBD), antibiotik, necritizing enterocolitans pada bayi dan juga dapat rusaknya ertahanan yang dibentuk oleh koloni bakteri dan integritasnya daat terjadi karena stress, sakit, antibiotik, erubahan ola makan, dan fisiologis usus.

            Robiotik digunakan untuk menyeimbangkan jumlah ini sehingga selalu dalam keadaan normal yakni jumlah mikroorganisme yang bermanfaat sama dengan jumlah mikroorganisme yang merugikan. Ketidakseimbangan mikroorganisme di dalam saluran encernaan akan menimbulkan sejumlah enyakit saluran encernaan atauun bersifat sistemik karena bakteri athogen daat bersifat endotoxemia khususnya C. Defficile.(1)

 

Mekanisme menyeimbangkan flora encernaan

            Mekanisme otensial yang ertama berkometisi untuk memblok erlekatan (adhesi) virus (rotavirus enyebab diare) bakteri enerotoxigenik dan enteroathogenik (E. Coli, Yersini pseudotuberculosa, Salmonella typhimurium) pada resepyor enterocyte, sel CaCo2 di brush border sehingga dapat mencegah efek buruk, perlekatan dan invasi bakteri kemukosa usus. Selain berkokmpetisi dengan reseptor, probiotik guna menyeimbangkan jumlah flora usus juga berkompetisi dengan peptide dan toxin yang dihasilkan oleh sel endokrin vili, hal ini dipengaruhi oleh pH lambung, garam empedu, enzyme pencernaan, fluiditas membran, serta faktor lain yang mempengaruhi probiotik ke reseptor.

            Mekanime yang kedua, yakni probiotik mengaktifkan respon imun. Sistem imun di mukosayang paling utama adalah di GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue), tempat induktif di Peyer atches dan komonen efektor SigA(secretory Immunoglobulin). Selain probiotik dapat memodulasi konsentrasi IgA, terutama pada yoghurt IgA terhadap Sakmonella Typhimurium. Baik itu innate respon imun sebagai pertahanan nonspesifik mengaktivasi makrofag di peritoneal, maupun memodulasi produksi cytokine (IL-1B), TNF-a), produksi interferon dan IL-2 oleh T-helper1 dan produksi IL-4, IL5, IL-6, IL10 oleh Theler 2 serta cytokine yang diroduksi oleh makrofag , natural killer cell, IFN gamma mengaktivasi rodiksi cytokine lainnya berguna untuk menghalangi koloni bakteri terbentuk akhirnya menurunkan aktivitas bakteri atau virus.

            Mekanisme yang ketiga berua engiriman sinyal keada host untuk menurunkan motilitas dan sekresi usus.

            Teori akhir dengan pengeluaran substansi yang menginaktifkan partikel virus seperti diare, serta mengeluarkan substansi antibakterial bakteriocin dan lacticin yang memiliki aktivitas antihelicobacter.

Manfaat probiotk

Antidiare

Antihelicobacter

Inflammatory Bowel Disease

Antikanker

Bakterial vaginosis

Laxative

 

Anjuran konsumsi probiotik

            Efek lama mengkonsumsi yoghurt tidak mengindikasikan erubahan signifikan aabila yoghurt berahan lama di usus.(5) Probiotik aman dikonsumsi untuk beberapa bulan pada bayi untuk penggunaan jangka panjang, ajantetapi efek buruknya seerti bakteremia aabila dikonsumsi lebih dari satu tahun pada populasi umum. Studi yang meneliti efek penggunaan jangka panjang probiotik pada anak-anak di day care centers, yang bertujuan apakah dapat mengurangi infeksi pada pernapasan dan saluran pencernaan atau justru sebaliknya. Studi ini menunjukkan pemberian robiotik sebesar 200mL setiap hari kepada artisian (anak-anak diantara 18 day care centers di Finland) yang sehat, tidak menderita alergi makanan, susu sapi, lactosa kepada 282 untuk gru lactobacillus dan 289 anak untuk lacebo. Dilaorkan oleh orangtua mereka terjadi 15% enurunan angka ketidakhadiran ada day care centers ada emberian rutin selama tujuh bulan dibandingkan efek ada lacebo dan erubahan signifikan terjadi dimana infeksi saluran ernaasan lebih rendah ada grup penerima probiotik(lactobacillus) dan peresepan antibiotik yang dilaporkan oleh dokteryang memeriksa menurun pada grup ini.(3)

            Memanfaatkan probiotik secara bijaksana perlu diperhatikan karena emberian terai (dosis dan waktu yang lama) daat menurunkan imunitas tubuh , tidak semua reson imun tubuh menguntungkan hostnya, salah satunya dinding sel bakteri muramylpeptidase dapat menimbulkan efek pyrogeniik (menyebabkan terjadinya demam) dan tidak cocok untuk aktivitas mukosa meskipun strain lactobacillus mengaktifkan makrofag dan menstimulasi sIgA.

 

Petunjuk dan keamanan probiotik

            Standar produk probiotik yang baik dapat dilihat berdasarkan guideline (1), sebelum produk atau probiotik tersebut dipergunakan, bakteri itu harus dites kualitas dan kelayakannya. Strain tersebut harus dapat diidentifikasikan berdasarkan genus dan spesiesnya kemudian nomenclaturnya didaftarkan pada Approved List of Bacterial Names, penggunaan probiotik harus memiliki design sehingga mudah dikenali. Setelah didentifikasikan strain tersebut harus diuji secara in vivo untuk mengetahui fungsi mikroorganisme tersebut di dalam tubuh dan secara in vitro untuk mengetahui pertahanan mikroorganisme itu terhadap pemakai.

            Organisme digunakan untuk kepentingan manusia tidak boleh menimbulkan resiko yang signifikan pada manusia seperti E. Coli tidak masuk kedalam strain probiotik karena kebanyakan dari strainnya bersifat pathogen. Organisme yang aman dipergunakan meliputi juga memperkecil tranfer gen bersifat resisten. Kriteria aman diketahui melalui tes resistensi antibiotik, aktivitas metabolisme, produksi toxin, aktivitas hemolisis, infeksi terhadap hewan immunocompromissed, efek samping terhadap manusia, insiden lain terkait konsumen.

            Setelah melalui ahapan uji keamanan probiotik perlu dilanjutkan dengan studi klinis fase 2 untuk mencari kemanjuran obat dibandingkan placebo, studi klinis fase 3 untuk mengetahui keefektifan produk dibandingkan dengan standar terapi.

            Apabila suatu produk probiotik telah melewati hingga studi klinis fase 3 baru bisa diberikan claim atau label seperti disampaikan dalam beberapa publikasi bahwa probiotik berguna sebagai antidiare.(1)

 

Kesimpulan

            Probiotik sangat bermanfaat bagi kesehatan terutama dalam mnejaga keseimbangan flora dalam saluran pencernaan melalui mekanisme yang dapat menurunkan kadar mikroorganisme pathogen di dalam tubuh, baik dalam memblok reseptor, mengeluarkan substansi dalam menghancurkan mikroorganisme pathogen.

            Probiotik yang aman bila telah melalui berbagai uji keamanan dan studi klinis, tersedia dalam, berbagai macam sajian kapsul atau sussu, dengan mengandung single strain maupun kombinasi, penggunaan strain kombinasi lebih baik karena melihat kemampuan masng-masing strain dapat dilengkapi dengan strain lainnya seperti VSL 3.Perkembangan probiotik sudah mengarah kepada pembentukan vaksin.Penggunaan probiotik bersamaan dengan prebiotik akan meningkakan pertumbuhan flora probiotik tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

Clinical Microbiology Review

  1. Reid. G, Jass.J, Sebulsky.Tom.M, McCormick.John K, 2003.Potential Uses of Probiotics in Clinical Practice.American Society for Microbiology.16:658-672

Available at : www.bmjjournals.com

 

Review

  1. H S Gill, F Guarner, 2003. Probiotics ang Human Health:a clinical perspective.Postgrad Med J.80-516-526

Available at:www.pmj.bmjjournals.com on January 2006

 

 

Paper

  1. Hatakka K, Savilahi E, Ponka A, Meurman, Jukka H, Poussa, Tuija, Nase, Leena, Saxelin M, Korpella R, 2001. Effect og long term consumption of probiotik milk on infections in children attending day care center:double blind, randomized trial.BMK.322

Available at : www.bmj.com on 5 January 2006

 

Review Article

  1. Macfarlane, George T, Cumming, John H, 1999.Probiotics and prebiotics : can regulating the activities oh intestinal bacteria benefit health? (Education and debate).BMJ.318:999-1003

Available at : www.bmj.com on 5 January 2006

 

Review Article

  1. Adolfsson,Oskar,Meydani, Simin Nikbin, and Russel, Robbert M, 2004.Yoghurt anf Gut Function (1,2).American Society for Clinical Nutrition 80: 245-256

Available at : www.ajcn.org on 6 January 2006

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Peran GLP1 sebagai antidiabetes

Peran GLP1 sebagai antidiabetes

 

 

Kadar glukosa dalam tubuh meningkat postprandial (setelah makan), ini membuat tubuh mengatur kelebihan glukosa dalam darah postprandial dengan disimpan dalam bentuk glikogen hati oleh insulin, lipogenesis pada adipocyte, dan glikogen otot. Apabila kadar glukosa dalam tubuh yang terus meningkat dan tidak terkontrol (tidak mencapai homeostasis) akan menimbulkan keadaan impaired glucose tolerance dimana selalu terjadi kenaikan glukosa darah setiap habis makan pada kadar insulin phisiologis, yang nanti jatuh pada keadaan diabetes. Keseimbangan glukosa tercapai dapat melalui peningkatan kadar insulin, menurunkan sekresi glukagon postprandial, memperpanjang proses pengosongan usus, regulasi neuron otak(5). GLP-1 dapat membantu terjadinya proses tersebut sehingga glukosa darah tetap mencapai keseimbangan dalam range normal (FBG <110mg/dl, 2 hr BG <126 mg/dl).

Untuk mempertahankan insulin dalam sirkulasi 10-20 uU/ml (0,4-0,8 ng/ml), sekresi insulin basal harus mencapai 18-32 U/hari dalam orang normal (0,7-1,3 mg) yang merupakan 50 % kebutuhan insulin sehari-hari. Postprandial insulin jarang naik sampai 100uU/ml. Insulin di sekresikan pulsatile seperti kebanyakan hormon setiap 1,5-2 jam serta mencapai puncak 30-45 menit yang dimulai 8-10 menit pertama.

Untuk mencapai normoglikemia terdapat standar control HbA1c < 7%, di dalam beberapa kasus ditemukan gula darah puasa, gula darah antar 2 phase makan terkontrol akan tetapi gula darah postprandial tetap tinggi, untuk itu banyak agent yang digunakan untuk mengatasi hiperglikemia postprandial seperti halnya α-glucosidase inhibitor dengan mengurangi penyerapan hasil pencernaan karbohidrat pada usus kecil bagian distal. Efek yang serupa terjadi pula pada incretin yang merupakan hormon pencernaan, GIP, dan GLP 1.

Insulin diregulasi melalui proses sintesis dan sekresinya. Glukosa, galaktosa, mannose, beberapa asam amino : arginine, leucine, asam keto kecil (α -ketoisocaproate), fruktosa bisa menstimulasi sekresi nsulin. Glukosa merupakn regulator insulin terpenting, dimana level glukosa  dibawah 80-100 mg/dl tidak bisa menstimulasi sekresi insulin. Kadar glukosa yang baik untuk menstimulasi sintesa insulin >70mg/dl. Sekresi insulin ini berhubungan dengan kerja neuron (parasimpatik), dan humoral (incretin), yang mana melalui mekanisme tertentu.

Pemberian glukosa intravena dibandingkan pemberian glukosa oral (bolus glukosa) memang lebih meningkatkan kadar glukosa darah, akantetapi sekresi insulin lebih meningkat pada pemberian bolus glukosa (peroral) menjadi 2 sampai 3 kali lipat pada pemberian glukosa dengan konsentrasi yang sama. Hal ini terjadi karena peranan hormon pencernaan (GLP-1) yang dapat meningkatkan sekresi insulin. Peranan incretin (gut related factor) untuk control glikemi postprandial sudah ditemukan 65 tahun yang lalu, seperti GIP (Glukosa dependen insulinotropik polypeptide), peptida proglukagon (GLP-1), DPP4 inhibitor, ghrelin, gastrin (lambung), CCK (cholecystokinin).

Pada pasien diabetes tipe 2, mekanisme sekresi insulin oleh  glukosa dan sekresi insulin oleh potentiator incretin (GLP-1) berkurang (5). Sekresi glukagon cenderung tinggi. Sekresi glukagon yang cenderung tinggi ini tidak bisa ditekan oleh perubahan asupan glukosa oral, sehingga jumlah glukosa meningkat lebih dari kadar glukosa normal postprandial. Acute phase respon glucose pada DM tipe 2 juga  terganggu (1). Pegambilan glukosa oleh liver dan penekanan pemecahan glikogen terganggu. Proses pengosongan usus juga terganggu pada pasien diabetes gastroparesis. Semua perubahan ini menimbulkan kegagalan regulasi glukosa postprandial. Semua abnormalitas ini tidak bisa dikoreksi oleh insulin sehingga penggunaan multipel hormon peptida (GLP-1) penting untuk meningkatkan respon postprandial sel islet pankreas pada pasien diabetes (5).

GLP-1 (glukagon like peptide-1) merupakan salah satu hormone gastrointestinal seperti glucose-dependent insulinotropic polypeptide (GIP) dalam pencernaan yang memiliki 30 rantai peptida asam amino yang diproduksi oleh enteroendocrine sel L, yang terletak  pada usus bagian distal dan kolon ataupun proksimal usus kecil (2) GLP-1 merupakan potentiator untuk sekresi insulin yang sekresinya dipengaruhi glukosa, dan duodenum (7) GLP-1 diprediksi berasal dari gene yang mengkode preproglukagon atau merupakan salah satu produk dari gen preproglukagon. Seperti halnya pada biosintesa insulin yang berasal dari preproglukagon yang produk utamanya insulin dan ada beberapa yang menyertai sekresinya (proinsulin, C-peptide). GLP-1 setelah mengalami translasi akan dipotong pada posisi 6 menjadi molekul bioaktif GLP-1 (7-37) oleh prohormon convertase 1 dan selanjutnya mengalami proses modifikasi pada C-terminal menjadi GLP-1(7-36) amide, bentuk inilah yang paling banyak pada sistem sirkulasi manusia. Secara cepat GLP-1 ini disekresi dalam hitungan menit ketika makanan dimakan dan aksinya tidak tergantung (independent-glucose secretion) oleh adanya glukosa, sehingga bisa untuk mengkontrol baik kadar gula darah puasa maupun kadar gula postprandial(6).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fungsi GLP-1 terkait homeostasis glukosa

-    Meningkatkan jumlah sekresi unsulin oleh sel B pancreas (glucose-dependent secretion)

-    Memfasilitasi pengambilan glukosa pada jaringan otot dan liver

-    Menekan sekresi glukagon pada sel A pankreas

-    Mengkontrol pertumbuhan se B pankreas

-    Meningkatkan masa dari se B pankreas serta mencegah apoptosis karena eningkatkan level cAMP

-    Terapi pembentukan islet sel yang baru (neogenesis)

-    Meningkatkan transkripsi gen yang mengkode insulin, menstabilkan mRNA yang mengkode insulin

PGDPs (Proglukagon-derive peptides) pada sel a selain memproduksi glukagon utamanya, juga memproduksi glicentin, oxyntomodulin,GLP-1, GLP2 dari bentuk proglukagon. Sekresi PGDP sebagai prekursor GLP-1 distimulasi oleh sinyal neural, hormon peptida (GIP), dan kontak nutrisi langsung dengan sel L terutama nutrisi tinggi serat. (2) meskipun ada beberapa keadaan injury yang dapat meningkatkan sekresinya, GLP-1 cepat dimetabolisme melalui ginjal (2 menit dalam sirkulasi). 

Makanan yang di makan mengaktifkan taste receptor pada lidah, dan sel enteroendokrin usus, melalui proses ekspresi komponen usus peka terhadap nutrient masuk  dan sistem transduksi sinyal melalui G protein G a gustducin, GB3, dan G gamma  13;phospholipase CB2:dan TRPM5 Ca2+ yang mengaktivasi Na/K+ channel. Dalam kedua tipe sel reseptor taste lidah dan enteroendokrin sama-sama mengalami peningkatan Calcium intraselular, yang merangsang eksositosis neurotransmitter reseptor taktil menuju sinap saraf pada otak, pada usus menyebabkan sekresi GLP-1 (3) selain GLP-1 juga dikeluarkan secara bersama GLP2, glicentin dan oxyntomodulin.Dimana GLP2 dan oxyintomodulin tidak memiliki efek terhadap sekresi insulin(2) GLP-1 memasuki sirkulasi dan berinteraksi dengan terminal saraf vagal, spinal (parasimpatetik). Rangsangan saraf parasimpatetik pada sel islet pankreas akan menstimulasi sekresi insulin. Sekresi GLP-1 menuju sirkulasi (pembuluh darah) akan menuju GLP 1 reseptor pada pankreas islet sel B  melalui mekanisme dependent/independent cAMP dan protein kinase A sama seperti jalur yang nantinya meningkatkan kadar calcium intraseluler yang juga akan meningkatkan eksositosis insulin dari vesikelnya. Insulin daam sirkulasi ini lah yang memiliki efek pada jaringan (adipocyte, pankreas, otak, lambung).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GLP-1 juga disekresi pada keadaan basal (puasa) sehingga GLP-1 juga bersifat independent glucose insulin secretion dengan demikian GLP 1 berguna mengatur kadar glukosa darah puasa, kerena kadar basal GLP-1 yang rendah dapat memberikan efek inhibisi terhadap sekresi glukagon oleh  sel A. Pada  sel B GLP-1 juga meningkatkan sensitivitas B sel terhadap glukosa,dan meningkatkan jumlah sel B yang merespon terhadap glukosa dimana glukosa menjadi regulator utama dalam sintesa insulin. Hal ini disebabkan oleh karena GLP-1 mengupregulasi molekular komponen yang peka terhadap glukosa pada sel B (glukosa transporter, ATP-sensitive K+ channel, glucokinase), pada diabetes mellitus tipe 2  penggunaan GLP-1R agonist jangka pendek dapat meningkatkan sekresi insulin oleh karena glukosa.. Melalui mekanisme AKT dapat mencegah apoptosis sel yang sering menjadi komplikasi pada diabetes, dapat meningkatkan proliferasi melalui PI3K, EGFR transactivation, dan P38 MAPK dan PKC, Efek citoprotection juga dimiliki oleh GLP-1 melalui aktivasi transkripsi untuk pertahanan hidup sel, gen pankreas PDX1, FOXO1 dan IRS2. 

            Pada pasien diabetes tipe 2 fase sekresi insulin pertama (first phase insulin secretion) yang secara normal disekresikan oleh sel B pankreas dalam waktu 10 menit setelah terjadi peningkatan jumlah plasma glukosa terjadi penurunan respon. Pemberian exenatide (39 asam amino peptida yang menyerupai incretin) memiliki aktivitas regulasi glukosa yang sama dengan GLP-1 yang meningkatkan sekresi insulin fase pertama pada orang normal, impaired glucose tolerance, dan tipe 2 diabetes (1)

 

 

 

 

 

 

                          

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                       

 

 

Daftar Pustaka

Loretta L. Nielsen, Mark S. Fineman, Dennis D. Kim, and Michael A. Nauck,2005. Exenatide Augments First- and Second-Phase Insulin Secretion in Response to ntravenous Glucose in Subjects with Type 2 Diabetes. J Clin Endocrinol Metab. 90 (11): 5991–5997.(Randomize Clinical Trial) Downloaded from jcem.endojournals.org ,January 10, 2007

Drucker,DJ,Banting and Best,Lunenfeld,S.2007. The role of gut hormones in glucose homeostasis .The Journal of Clinical Investigation. Volume 117 Number 1 January 2007.Available at:http://www.jci.org (review series)

David E. Cummings and Joost Overduin.2007. Gastrointestinal regulation of food intake. The Journal of Clinical Investigation. Volume 117 Number 1 January 2007 Available at :http://www.jci.org (Review Series)

Hansotia,T,et all.2007.Extrapancreatic incretin receptors modulate glucose homeostasis, body weight, and energy expenditure.The Journal of Clinical Investigation. Volume 117 Number 1 January 2007.available at: http://www.jci.org. (reearch article)

Matthew,C,et all.2006.Emerging Therapies Mimicking the Effects of Amylin and Glucagon-Like Peptide 1.DIABETES CARE, VOLUME 29, NUMBER 2, FEBRUARY 2006(review article)

Baggio,L,et all.2000.Glucagon-Like Peptide-1, But Not Glucose-Dependent

Insulinotropic Peptide, Regulates Fasting Glycemia and

Nonenteral Glucose Clearance in Mice.Endocrinology.Vol. 141, No. 10. Downloaded from endo.endojournals.org at Indonesia:Endo Jnls Sponsored on January 24, 2007

Boron,F.W,2005.Medical Physiology.update edition.Conecticut:Elsevier Saunders:1067-1087

Sherwood,L,2004.Human Physiology fron Cells to Systems.5th edition.West Vieginia:Thomson,brooks/cole:719-733

Felig,P,et all.2001.Endocrinology and Metabolism.international edition. 4’th edition.Chicago:Mc Graw-Hill:830-838

Greenspan,SF,et all.2001.Basic Clinical Endocrinology.Lange 7’th edition.New York:Mc Graw-Hill:659-665

Braunwald,et all,2001.Harrison’s Principles of Internal Medicine.15’th edition. vol.1.New York:McGrawHill:2112

 

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Tugas Semester 2 (Abiansemal, Badung)

 

 

  1. Latar Belakang

Dari hasil kunjungan penulis ke keluarga angkat, penulis menemukan beberapa masalah dalam keluarga angkat, diantaranya :

  1.  
    • Permasalahan mengenai kesehatan gigi susu anak pertama dan kedua dari keluarga ini, yang mengalami carries, serta pertumbuhan giginya yang tidak bagus
    • Permasalahan di keluarga angkat tentang penggunaan obat bebas baik itu berupa antibiotic tanpa menggunakan resep dokter, karena keluarga angkat penulis seringkali menggunakan obat bebas ketika terserang penyakit dan itupun tanpa dasar pengetahuan yang jelas, hanya berdasarkan pengalaman saja
    • Permasalahan mengenai pola pembuangan limbahn keluarga yang ternyata hanya ditumpuk begitu saja, tanpa memperhatikan resiko yang ditimbulkan   

Dari ketiga permasalahan yang penulis temukan di keluarga angkat, penulis berusaha menyusun sebuah solusi , yang penulis sampaikan dalam Good Questions berikut :

·        Apakah dengan memberikan contoh, bimbingan (edukasi) tentang cara menyikat gigi yang baik  kepada anak-anak Keluarga angkat Ketut Widiantara selama 1 bulan akan dapat meningkatkan ketertarikan untuk menyikat gigi secara kontinu dan mandiri.

·        Apakah dengan memberikan informasi tentang bahaya penggunaan obat bebas serta manfaat kandungan tiap obat sekaligus bagaimana dengan bijak memanfaatkan antibiotic kepada istri KA yang berperan sebagai pengambil keputusan sehat sakit di KA selama kurun waktu 1 bulan dapat meningkatkan pengetahuan di lingkungan KA tentang penggunaan obat-obat bebas, antibiotic dan manfaat kandungan obat secara umum, sehingga KA dapat mengambil keputusan tentang pemilihan obat yang baik.

·        Apakah dengan pengadaan Bis Beton (tempat pembakaran sampah) sekaligus memberikan KIE hidup sehat di Keluarga Angkat selama 1 bulan dapat mengubah pola pengelolaan limbah di Keluarga Angkar dari pola ditumpuk yang sangat beresiko menjadi dibakar.

Setelah penulis mendapat masukan dari pembimbing mengenai permasalahan apa yang harus penulis laksanakan solusinya dari ketiga permasalahan diatas. Penulis mengangkat masalah  bagaimana mengubah pola pengelolaan limbah di keluarga angkat yang selama ini hanya ditumpuk menjadi dibakar dengan membantu dalam pengadaan Bis beton. Penulis mengangkat masalah ini karena produksi sampah di Keluarga Angkat sangat besar baik itu sampah organic (cepat terurai dalam tanah) maupun anorganik (lambat terurai dalam tanah), untuk itu diperlukan cara meminimalisir jumlah sampah.

Sampah yang ditumpuk begitu saja dalam jangka panjang akan mencemari tanah dan sumber air yang berada didekatnya yang paling berbahaya apabila menimbun sampah yang lambat terurai oleh tanah, racunnya akan merembes kesumber air didekatnya. Periode musim hujan seperti sekarang ini akan menambah buruk efek yang terjadi karena rembesan air hujan akan akan mempercepat pencemaran tanah.  Untuk itu banyak solusi yang dapat meminimalisir jumlah sampah seperti membakar sampah pada tempat yang khusus dan jauh letaknya dari pemukiman penduduk, memanfaatkan kembali sampah yang bisa didaur ulang, memadatkan sampah kemudian ditanam dengan kedalaman lebih dari 5 meter (berbeda dengan ditumpuk begitu saja).

Melihat letak sumur yang dimanfaatkan sehari-hari oleh KA berjarak dekat (+ 5 meter) dengan tempat penimbunan sampah untuk itu cara ini teramat beresiko daripada membakar sampah dengan aturan – aturan tertentu, serta dari ketiga permasalahan ini yang dinilai paling aplikatif dan efeknya langsung bisa terlihat selama kurun waktu 1 bulan adalah dengan pengadaan bis mengingat evaluasi harus dilakukan hanya berselang waktu 2 minggu dari penyusunan POA (Plan Of Action).

Keluarga Bapak Ketut Widiantara terdiri dari 2 orang anak-anak dan 2 orang dewasa yang sangat jarang berada di rumah, sehingga semua hal yang berhubungan dengan kebersihan rumah selalu ditangguhkan bila ada pekerjaan yang lebih dapat mendatangkan hasil, misalnya mengenai bagaimana keluarga bapak Ketut ini mengelola limbah (dapur, rumah tangga) yang menumpuk limbah tersebut di suatu tempat dan hanya mengharapkan akan dihancurkan oleh tanah. Hal ini memang dirasakan lebih praktis daripada harus membawa limbahnya sendiri ke TPA terdekat, atau cara lain yang pernah terpikirkan untuk membakarnya. Akantetapi tumpukan sampah yang lama didiamkan akan menjadi habitat vector penyebab penyakit seperti Demam Berdarah, Disentri, Tifoid, dll, tidak menutup kemungkinan untuk menimbulkan gangguan kesehatan.

Melihat hal tersebut, melalui diskusi tentang solusi bagaimana sebaiknya pengelolaan limbah di keluarga angkat ini, penulis akan mengupayakan sebuah tempat pembakaran limbah di keluarga angkat yang penulis namakan Bis Beton. 

 

           

  1. Tujuan

Dengan membantu pengadaan Bis beton (tempat pembakaran sampah) dan sekaligus memberikan KIE tentang hidup sehat di Keluarga angkat selama kurang lebih 1 bulan dapat mengubah pola pengelolaan limbah di keluarga angka yang mulanya sangat beresiko dengan ditumpuk menjadi dibakar.

 

  1. Kegiatan Proyek (Tahap-tahap Pelaksanaan)

Untuk pelaksanaannya sejalan dengan format yang direncanakan di dalam POA (lampiran) yang dibagi menjadi beberapa tahap, serta dapat dirangkum proses kegiatan ini selama 2 bulan (April – Mei 2006)

 

NO

TAHAP

KEGIATAN

APRIL

MEI

JUNI

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

1

Persiapan

Identifikasi masalah

ü       

ü       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komunikasi, Informasi, Edukasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penyusunan POA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemilihan tempat pembakaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Pelaksanaan

Pembuatan dasar + pemasangan Bis Beton

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Progress Report

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Evaluasi

Evaluasi Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembuatan Laporan POA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penyerahan Laporan POA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Pelaksanaan POA di Keluarga Angkat periode April – Juni 2006)

 

·              Persiapan

Tahap ini dilakukan penulis sesuai dengan jadwal yang direncanakan pada bulan April 2006, yang dapat diuraikan sebagai berikut :

1.      Mengidentifikasikan berbagai persoalan yang ada di Keluarga Angkat, sebenarnya tahap ini merupakan kelanjutan dari kegiatan pada semester III lalu, bahwasanya penulis menemukan permasalahan yang semakin kompleks setiap harinya terutama terkait dengan masalah lingkungan di sekitar  Keluarga Angkat. Setelah terangkum tiga buah permasalahan pokok di dalam Keluarga Angkat ini, dan hasil berdiskusi dengan pembimbing penulis mengangkat permasalahan perilaku mengubur dan menimbun sampah baik itu sampak organic, plastic, maupun anorganik. Tidak menjadi permasalahan berat jika sampah tersebut terurai di dalam tanah, permasalahan timbul apabila samapah tidak terurai dan justru berefek mencemarkan tanah, air dan udara, yang memang dampaknya tidak akan dirasakan langsung tapi membutuhkan waktu dalam hitungan bulan sampai hitungan tahun. Lain daripada itu hal yang membuat penulis memprioritaskan permasalahan ini karena sumber air yang digunakan di keluarga angkat berasal dari sumur yang dangkal yang letaknya kurang lebih 5 meter dari tempat penguburan sampah, sehingga penulis menyimpulkan dari beberapa pustaka, bahawa besar kemungkinan asumber air ini dapat tercemar, apalagi pada periode musim hujan seperti sekarang ini. Sebagai gambaran situasinya, berikut penulis gambarkan secara teknis mengenai permasalahan yang terjadi di keluarga angkat.

 

Sanggah

Dapur

Tempat menimbun sampah

Sumur

Tempat pembakaran sampah

Pengadaan Bis beton, KIE

 

                                                                                    T                                   

                                                       

                       + 5 meter

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Gambar letak tempat penimbunan sampah, sumur (sumber air), dapur, dan letak POA)

 

2.      Komunikasi, Informasi dan Edukasi, untuk memberikan persepsi sehat pribadi dan lingkungan yang ideal kepada Keluarga angkat untuk tujuan tersebut penulis melakukan Komunikasi dengan berdiskusi tentang bahaya pengelolaan sampah yang dari komunikasi ini penulis merasakan sebagian besar keluarga angkat tidak mengetahui bahaya sampah bagi lingkungan (terhadap keluarga, tanah, air, udara) dan apabila mereka mengetahui sebelumnya sudah pada tentunya kebiasaan menimbun sampah tidak akan dilakukan. Informasi tentang bagaimana hidup sehat yang praktis murah dan ideal yang perlu mendapat pertimbangan juga dilakukan oleh penulis, karena penulis menganggap pengetahuan mengenai kesehatan pribadi ini dapat menunjang pemahaman untuk aplikasi yang berkelanjutan serta praktis dan murah maksudnya agar tidak membebankan keluarga angkat untuk berperilaku sehat seperti solusi yang sekarang ditawarkan penulis agar sebaiknya membakar sampah yang tidak mudah terurai di dalam tanah, dalam hal ini penulis membantu pengadaan tempakt pembakarannya.

Yang perlu dikomunikasikan disini mengenai bagaimana meminimalisir sampah yang aman, penulis menyarankan untuk mendaur ulang sampah sampah anorganik (plastic, Koran, kertas, dll), sebelum sampah itu dibakar di dalam bis beton, karena membakar sampah memiliki kelemahan dan kelebihanyang diuraikan dalam latar belakang, dan disini bagaimana upaya kita memminimalisir kelemahan dari efek membakar sampah tersebut seperti membatasi frekuensi membakar sampah, mengutamakan mendaurulang, letak tempat pembakaran ataupun dengan mmemilih menggunakan bahan yang terbut dari kain disbanding dengan plastic (memaksimalkan penggunaan barang).

3.      Penyusunan Plan Of Action (POA), sebagai landasan dalam pelaksanaannya, penulis membuat POA (dilampirkan), secara garis pelaksanaannya sesuai dengan jadwal, anggaran  serta waktu yang ditetapkan.      

4.      Pemilihan tempat pembakaran, karena implementasi dari POA ini adalah pengadaan bis beton sebagai tempat pembakaran sampah untuk itu perlu dipikirkan mengenai letaknya agar tidak mengganggu untuk selanjutnya. Agar asapnya tidak mengganggu pemilihan tempat agak jauh dari rumah dan dengan pertimbangan Keluarga angkat juga dan asapnya tidak mengenai pemukiman rumah. Tempat pembakaran sampah bisa dilihat di denah di atas.     

·              Pelaksanaan

1.      Pembuatan dasar dan pemasangan Bis Beton, setelah berdiskusi dengan kepala keluarga angkat bagaimana sebaiknya teknis tempat pembakaran (bis beton) sehingga memudahkan dalam proses pembakaran seperti:

·        Pertimbangan tentang dasar/alas bis beton

·        Pembuatan lubang pada bis guna memudahkan proses pembakaran

·        Dll (pembuatan tutup bis)

Pada tahap pelaksanaan ini sepenuhnya penulis dibantu oleh Keluarga angkat khususnya kepala KA, kakak ipar KA, beberapa tetangga, serta tenaga teknis yang penulis mohonkan bantuan (3 orang)  untuk pemasangan Bis beton, pembuatan alas penyangga Bis beton, dan beberapa aspek teknis lainnya, diperlukan waktu satu minggu, dan mengambil minggu pertama bulan Mei. Pelaksanaan ini penulis lakukan bersama kepala KA dengan 1 kali kunjungan guna meminimalkan biaya transport, lagipula sudah dipertimbangkan sebelumnya tentang teknis pelaksanaannya. Sejalan dengan pelaksanaannya rencana anggaran yang semula diperkirakan sebesar Rp 143.000,00 berkurang menjadi Rp 70.0000,00 yang idealnya menurut kebutuhan di KA sendiri, dan dengan menambah pengeluaran yang tidak dianggarkan sebelumnya seperti biaya transportasi dan biaya untuk memperoleh informasi (internet) berikut disertakan total biaya yang dihabiskan (bisa dipakai perbandingna dengan rencana anggaran POA pada lampiran)

No

Sumber Daya

Ada

Dihabiskan

Keterangan

1

Bis Beton (80 cm x 80 cm)

-

Rp   35,000.00

1 Unit

2

Semen

1 sak

1 sak

Sukarela

3

Pasir

secukupnya

secukupnya

Sukarela

4

Tenaga teknis pelaksanaan

6 orang

6 orang

 

5

Transportasi

 

Rp 25,000.00

 

6

Internet + fotocopy

 

Rp 10,000.00

 

TOTAL

Rp 70,000.00

 

2.      Progress Report, semenjak setelah pembuatan bis beton selesai dapat dilaporkan keluarga angkat baru memanfaatkan fasilitas tersebut selama 2 kali sampai laporan ini dibuat, Karena memperhitungkan kembali asap akibat pembakaran, untuk itu pembakaran sampah jadi tidak sering dilakukan, biasanya yang membakar sampah adalah kepala keluarga angkat, istri KA, walaupun masih ada bentuk perilaku menimbun sampah.

·              Evaluasi

Dari rincian data kunjungan ke KA sebagai berikut :

·        Kunjungan 1 Sabtu 18 Maret 2006

·        Kunjungan 2 Kamis 5 April 2006

·        Kunjungan 3 Sabtu 15 April 2006

·        Kunjungan 4 Jumat 5 Mei 2006

·        Kunjungan 5 Sabtu 20 Mei 2006

·        Kunjungan 6 Sabtu 3 Juni 2006

   Evaluasi diperlukan untuk melihat apakah tujuan yang ingin dicapai penulis telah tercapai, hasil evaluasi dari pelaksanaan POA dirinci dalam hasil yang dicapai, sedangkan hal-hal yang ingin dilakukan evaluasi adalah sebagai berikut

Proses :

1)      KA mau bekerjasama dengan penulis dalam hal teknis dan biaya sesuai kemampuan KA

2)      Hambatan-hambatan dapat terselesaikan dengan baik

Hasil :

1)      Perubahan pola pengelolaan limbah di KA dari ditumpuk jadi dibakar secara berkelanjutan

2)      KA memanfaatkan bis beton sewajarnya sesuai fungsi dan secara berkelanjutan

3)      KA dapat mengaplikasikan pola hidup sehat

Proses evaluasi ini dilaksanakan selama 4 minggu, setiap kunjungna lapangan, dan dilaksanakan oleh penulis sendiri dengan masukan dari pembimbing POA. Evaluasi  ditujukan kepada seluruh anggota keluarga angkat tentang bagaimana pelaksanaannya, serta pendapatnya setelah fasilitas ini ada,, pelaksanaan evaluasi dilakukan oleh penulis sendiri setelah fasilitas ini pernah digunakan yaitu bulan Mei minggu kedua dan ketiga.

 

  1. Hasil yang Dicapai

Dari evaluasi yang penulis lakukan, terdapat beberapa perubahan perilaku yang besarnya ndapat disampaikan dalam table kuantitatif berikut ini :

No.

Yang diukur

Sebelum PSBH

Sesudah PSBH

1

Frekuensi membuang sampah diteba tanpa membakarnya selama 3 minggu pengamatan

+   10 kali

+ 5 kali

2

Frekuensi membakar sampah selama 3 minggu pengamatan

Tidak pernah

2 kali

3

Kebersihan lingkungan rumah tangga

40 %

55 %

4

Bau tidak sedap

75%

20 %

5

Tumpukan sampah plastik di Teba

85 %

30 %

(Tabel hasil yang dicapai dengan pengukuran kuantitas)

Untuk kriteria selain yang disebut di atas (kualitas) dapat dipaparkan bahwa seluruh KA mau bekerjasama dalam membantu memasang bis beton ini, hambatan-hambatan lain tidak menjadi permasalahan untuk mendapat hasil yang diinginkan penulis

 

  1. Masalah yang Dihadapi

Selama pelaksanaan dari POA ini, terdapat beberapa masalah yang ditemui dalam pelaksanaan :

1.      Kepala KA terkadang sulit untuk ditemui walaupun telah membuat janji terlebih dahulu

2.      Beberapa kesibukan Keluarga angkat  (rahinan, upacara galungan dan kuningan) yang dilaksanakan tepat bersamaan dengan pelaksanaan PSBH ini, sehingga sedikit menghambat pelaksanaannya.

3.      Kesulitan dalam memahami beberapa informasi yang penulis sampaikan kepada keluarga angkat melalui KIE, sehingga penulis harus beberapa kali mengulang informasi tersebut, hingga mudah dipahami.

 

  1. Upaya Pengembangan Lebih Lanjut

Untuk pelaksanaannya agar berkesinambungan diperlukan untuk selalu memberikan KIE hidup sehat dengan pendekatan resiko akibat, misalnya perlu dilakukan kembali evaluasi ulang melalui proses kunjungan dengan menekankan resikoyang terjadi pada kasus-kasus nyata. Semua teknik untuk meminimalisir jumlah sampah bisa memiliki resiko sehingga untuk selanjutnya dapat diterapkan ketika membakar sampah menggunakan masker, dan frekuensi membakar sampah jangan terlalu sering (lebih mengutamakan mendaur ulang sampah terlebih dahulu).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

1. POA

 

PENGADAAN BIS BETON SEBAGAI TEMPAT PEMBAKARAN

 LIMBAH DI KELUARGA ANGKAT

 

Dwiyathi Utami / 0402005066

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

 

 

 

 

1. Latar Belakang

            Tidak terdapat pola pengelolaan limbah keluarga yang baik bagi kesehatan, karena selama ini KA membuang limbah langsung begitu saja ke Teba, tidak peduli bagaimana kelanjutannya. Hal ini terjadi karena dirasakan praktis oleh KA.

Tidak semua hal yang bersifat praktis itu baik, misalnya dalam hal pengelolaan limbah yang ditumpuk begitu saja, memang hal tersebut terlihat praktis tetapi berefek terhadap sumber penularan penyakit dengan vektor nyamuk, lalat. Untuk menanggulangi hal tersebut pengubahan pola pengelolaan limbah akhir misalnya dengan dibakar di dalam bis beton merupakan salah satu alternatif yang aplikatif. Bis beton merupakan suatu wadah silindris tanpa tutup dan alas terbuat dari beton.

 

2. Tujuan

            Diharapkan dengan pengadaan bis yang terbuat dari beton ini pada tempat pembuangan limbah yang dilakukan selama 1 bulan oleh penulis dengan bantuan kepala KA dapat mengubah pola pengelolaan limbah keluarga yang semula dirasakan praktis dengan ditumpuk begitu saja menjadi  dibakar, dimana diharapkan pula hal ini dilakukan terus secara berkesinambungan dan berkelanjutan.

 

3. Langkah-langkah

            Dalam pelaksanaan proyek ini dilakukan komunikasi dengan kepala KA, bahwa idealnya bagaimana pengelolaan limbah yang baik selain membangun saluran pembuangan agar limbah tak tergenang. Pemberian Informasi ini penting untuk mengetahui apakah Kepala KA menyambut baik dengan masukan yang kita sampaikan atau masukan tentang hal-hal diluar pemikiran kami. Setelah diinformasikan, sesuai jadwal POA yang disusun , yaitu sekitar Minggu ke-empat bulan April implementasi dari pengadaan bis beton ini. Penulis bekerjasama dengan KA dalam pelaksanaanya baik itu dalam pengadaan, sehingga pemilik nantinya merasa ikut memiliki dan mau merawat. Implementasinya mungkin memakan waktu sekitar 2 minggu, terkait didalam pemilihan tempat, intervensi bis, dll. Semua proses ini ditujukan kepada Keluarga ketut Widiantara di Desa Kedampal.  

 

4. Rencana Waktu :

No.

Kegiatan

April

Mei

I

II

III

IV

I

II

III

IV

1.

Pemberian Informasi, KIE, meminta tanggapan Kepala KA

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

Penyusunan POA

 

 

 

 

 

 

 

 

3.

Pemilihan tempat pembakaran

 

 

 

 

 

 

 

 

4.

Pembuatan dasar tempat Bis Beton

 

 

 

 

 

 

 

 

5.

Pemasangan Bis Beton

 

 

 

 

 

 

 

 

6.

Progress report

 

 

 

 

 

 

 

 

7.

Evaluasi Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

            Dapat diuraikan disini waktu efektif implementasi dari program pengadaan bis beton ini direncanakan selama 2 minggu, waktu evaluasi diperpanjang sekitar 4 minggu agar penulis mengetahui pemahaman dan tujuan aplikasi sudah tercapai atau belum di keluarga angkat secara berkelanjutan, sebagai penentu langkah selanjutnya, dimana parameter yang dilihat diuraikan di dalam bahasan evaluasi

           

5. Rencana Anggaran

            Anggaran yang direncanakan dapat disusun dalam tabel Sumber Daya Alam yang diperlukan sebagai berikut :

No.

Sumber Daya

Ada

Diperlukan

Keterangan

1.

Bis Beton (80 cm x 80 cm)

-

Rp   75,000.00

2 Unit

2.

Semen

-

Rp   38,000.00

1 Sak

3.

Pasir

-

Rp   20,000.00

Secukupnya

4.

Tripleks (1 m2)

-

Rp   10,000.00

 

5.

Tenaga teknis pelaksanaan

2 orang

2 orang

 

TOTAL

teknis 2 orang

Rp 143,000.00

 

Rencananya anggaran yang dibutuhkan dalam halnya pengadaan bis beton ini diharapkan Keluarga Angkat mau membantu dalam teknis maupun pelaksanaannya, yang pada nantinya  diharapkan menimbulkan rasa memiliki, sehingga mau merawat bis ini untuk kepentingan terkait. Memang keterbatasan Sumber Daya Alam yang tersedia menimbulkan kebingungan penulis sendiri, akantetapi melihat begitu besar hasil dan manfaat yang akan dicapai untuk keluarga angkat, beberapa kebingungan tersebut bisa diatasi. 

 

6. Evaluasi

            Penulis membuat kriteria evaluasi berdasarkan tujuan penulis sebelumnya, untuk menentukan jawaban apakah dalam proses dan hasil pelaksanaannya sesuai yang diharapkan penulis :

Proses :

3)      KA mau bekerjasama dengan penulis dalam hal teknis dan biaya sesuai kemampuan KA

4)      Merasa memiliki dan mau merawat bis beton tersebut

5)      Hambatan-hambatan dapat terselesaikan dengan baik

Hasil :

4)      Perubahan pola pengelolaan limbah di KA dari ditumpuk jadi dibakar secara berkelanjutan

5)      KA memanfaatkan bis beton sewajarnya sesuai fungsi dan secara berkelanjutan

6)      KA dapat mengaplikasikan pola hidup sehat

Proses evaluasi ini dilaksanakan selama 4 minggu, setiap kunjungna lapangan, dan dilaksanakan oleh penulis sendiri dengan masukan dari pembimbing POA.

 

 

2. Informasi yang diberikan

 

Apa Akibatnya Dari Pembakaran Sampah di Pekarangan Rumah Tangga dan Pembakaran/Kebakaran Hutan Terhadap Kesehatan

Oleh: Yohan Sumaiku

(1) Pendahuluan

 

Mungkin sudah sering sekali orang menulis mengenai topik ini. Meskipun begitu saya mencoba memberanikan diri untuk menulis topik ini untuk memberikan tambahan informasi bagi para pakar yang sudah mengetahuinya. 

 

Tulisan ini ingin sekedar membicarakan masalah kita bersama dimana pembakaran sampah diudara terbuka bisa memberikan dampak kesehatan karena gas gas racun (dioksin dan furan) yang diproduksi dari pembakaran sampah tersebut.

 

Tulisan ini juga disertai beberapa usulan usulan yang mungkin sebahagian sudah dijalankan oleh kita.

(2) Sampah rumah tangga yang dibakar di udara terbuka

 

Sebuah keluarga didaerah yang jauh dari kota besar di Amerika (daerah rural) yang beranggotakan empat orang membakar sampah rumah tangga mereka didalam drum dipekarangan belakang rumah mereka. Asap pembakaran sampah ini (catat: dari satu rumah tangga) menghasilkan racun udara dioksin dan furan yang sama banyaknya dengan racun udara yang dikeluarkan oleh mesin pembakar sampah rumah tangga (biasa disebut Municipal Waste Combustor, atau MWC, atau incinerator) yang sanggup melayani puluhan ribu rumah tangga. Ini adalah praktek biasa sehari hari yang dilakukan oleh masyarakat Amerika didaerah rural. Laporan dari U.S. Environmental Protection Agency (US-EPA) dan Departemen Kesehatan Negara Bagian New York mengatakan bahwa pembakaran sampah rumah tangga didalam pekarangan adalah salah satu sumber polusi yang paling parah di Amerika.

 

Dari hasil penelititan yang intensif dalam beberapa tahun terakhir ini dikatakan bahwa pembakaran sampah rumah tangga pada kondisi pembakaran dan suhu yang rendah dapat menimbulkan gas racun dioksin dan furan, demikian dikatakan oleh Paul Lemieux, Ph.D., salah seorang peneliti dari National Risk Management Research Laboratory, US-EPA.

 

Pengukuran emisi dari pembakaran sampah rumah tangga didalam sebuah drum berukuran 200 liter telah dilakukan di Carolina Utara ditempat percobaan fasilitas pembakaran dari EPA. Sampah yang dibakar adalah sampah yang biasanya dibakar oleh sebuah rumah tangga yang terdiri dari surat kabar bekas, buku, majalah, surat, karton, karton susu, sampah makanan, beberapa jenis plastik, kaleng dan botol. Oli gemuk, minyak bekas, ban bekas, dan bahan cat atau bahan rumah tangga yang bersifat bahan berbahaya dan beracun (B3) tidak diikut sertakan didalam percobaan tersebut.

 

Sesudah itu, hasil pembakaran percobaan ini dibandingkan dengan hasil pembakaran dari alat pembakaran rumah tangga yang terkendali (MWC/incinerator) yang menghasilkan dioksin yang lebih kecil daripada yang ditetapkan oleh EPA. Ternyata hasil pembakaran rumah tangga ini menghasilkan senyawa polychlorinated seperti dioksin didalam jumlah yang sangat jauh lebih besar daripada hasil pembakaran alat MWC yang sanggup melayani puluhan ribu sampah rumah tangga.

 

Dibanyak daerah di Amerika Serikat, pembakaran sampah diudara terbuka sudah dilarang. Daerah yang masih diperbolehkan membakar sampah diudara terbuka adalah daerah rural.

 

Racun udara dioksin dengan jelas memperlihatkan efek kesehatan terhadap binatang percobaan seperti pada gangguan fungsi daya tahan tubuh, kanker, perubahan hormon, dan pertumbuhan yang abnormal.

(3) Dioksin dan Furan, dan dampaknya terhadap kesehatan.

 

Dioksin adalah istilah yang umum dipakai untuk salah satu keluarga bahan kimia beracun yang mempunyai struktur kimia yang mirip serta mekanisma peracunan yang sama. Keluarga bahan kimia beracun ini termasuk (a) Tujuh Polychlorinated Dibenzo Dioxins (PCDD); (b) Duabelas Polychlorinated Dibenzo Furans (PCDF); dan (c) Duabelas Polychlorinated Biphenyls (PCB). PCDD dan PCDF bukanlah produk kimia yang dikomersilkan, tetapi produk sampingan yang secara tidak sengaja terjadi didalam banyak proses pembakaran dan beberapa proses industri kimia. PCB dengan sengaja diproduksi secara komersil dalam jumlah besar sampai produksi tersebut dilarang ditahun 1977. Di Amerika Serikat, tingkat dioksin sudah menurun terus sejak awal tahun 1970-an sebagai akibat dari aksi aksi pembersihan serta peraturan dari negara bagian dan pusat. Meskipun begitu, tingkat dioksin yang ada sekarang masih harus tetap menjadi perhatian.

 

Dioksin bersifat ada terus menerus (persistent) dan terakumulasi secara biologi (bioaccumulated), dan tersebar didalam lingkungan dalam konsentrasi yang rendah. Tingkat konsentrasinya rendah, sampai parts per trillion (satu per 10 pangkat 12), terakumulasi sepanjang kehidupan dan ada terus bertahun tahun, walaupun tidak ada penambahan lagi kedalam lingkungan. Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena kanker dan efek lainnya terhadap binatang dan manusia.

 

Dioksin termasuk kedalam kelas bahan yang bersifat carcinogen (yang menyebabkan kanker). Efek samping dioksin terhadap binatang adalah perubahan sistim hormon, perubahan pertumbuhan janin, menurunkan kapasitas reproduksi, dan penekanan terhadap sistim kekebalan tubuh. Efek samping dioksin terhadap manusia adalah perubahan kode keturunan (marker) dari tingkat pertumbuhan awal dari hormon. Pada dosis yang lebih besar bisa mengakibatkan sakit kulit yang serius yang disebut `chloracne.’

 

Dioksin dapat terdeteksi di udara, tanah, lapisan sedimen dan makanan. Dioksin ditranspor terutama melalui udara dan terkumpul dipermukaan tanah, bangunan, jalanan, kaki lima, air dan daun daunan. Kebanyakan dioksin berasal dari produksi sampingan dari suatu pembakaran. 

 

Dioksin banyak dikeluarkan oleh sumber sumber sbb.:

Tempat pembakaran sampah perumahan (MWC, incinerator)

Pembakaran sampah rumah tangga dipekarangan/udara terbuka

Pemakaian kayu bakar untuk masak

Kebakaran hutan

Tempat pembakaran bekas alat alat kedokteran

Peleburan tembaga tahap kedua

Tempat pengeringan semen di pabrik semen (cement kiln)

Pembangkit listrik tenaga batubara

Pemutihan (dengan bahan khlor) bubur kayu dipabrik pembuatan kertas

 

Kebanyakan kita ter expose (terkena) dengan dioksin dari makanan yang kita makan khususnya dari lemak binatang yang berhubungan dengan daging sapi, babi, unggas, ikan, susu, dan produk produk susu.

 

Disamping dioksin dan furan, pembakaran sampah didalam udara terbuka juga menimbulkan kabut asap yang tebal yang mengandung bahan bahan lainnya seperti partikel debu yang kecil kecil yang biasa disebut particulate matter (PM) serta bahan bahan racun lainnya. Particulate Matter ini bisa berukuran 10 mikron (kira kira sama dengan rambut kita yang dibelah tujuh), biasa disebut PM10. Alat saring pernafasan kita tidak sanggup menyaring PM10 ini, sehingga PM10 ini bisa masuk kedalam paru paru kita dan bisa mengakibatkan sakit gangguan pernafasan (astma dan paru paru, dlsb.)

(4) Masalah Kita Bersama

 

Kita masih banyak melihat pembakaran sampah dipekarangan rumah rumah tangga setiap hari, dan ini kelihatannya merupakan hal yang biasa. Apabila kita terbang dengan pesawat udara dari Jakarta kedaerah lain, ketika pesawat mau naik atau mau mendarat, kita melihat banyak sekali halaman halaman rumah penduduk membakar sampah mereka. Bisa kita bayangkan berapa banyak polusi udara yang ditimbulkan setiap harinya dari hasil pembakaran sampah ini.

 

Didalam jangka waktu yang pendek, kelihatannya cara cara ini lebih praktis dan lebih mengirit ketimbang harus menjalankan proses daur ulang yang panjang.

 

Didalam jangka waktu yang panjang, cara cara seperti ini sebenarnya lebih merugikan individu yang bersangkutan, komunitas, dan negara secara keseluruhan. Polusi yang kelihatannya sedikit ini, lama lama menjadi bukit. Polusi ini perlahan lahan akan membuat sebagian orang yang seharusnya hidup sehat menjadi sakit, antara lain sakit gangguan pernafasan (astma, paru paru dll.). Orang orang tersebut yang seharusnya bisa bekerja 8 jam per hari tanpa sakit sepanjang tahun, bisa bekerja kurang dari 8 jam per hari dan sakit beberapa hari per tahunnya. Orang tersebut dirugikan karena kehilangan upah hariannya ditambah harus keluar biaya membayar mantri/dokter dan membeli obat. Disamping itu, masih ada lagi kerugian lainnya bagi individu yang sakit itu. Dia kehilangan kenikmatannya dimana dia seharusnya bisa menikmati hari liburnya (misalnya Sabtu dan Minggu) bersama anak dan isterinya, karena sakit, harus diam dirumah. Kehilangan kenikmatan sejenis ini, kalau kita mau, masih bisa digambarkan dalam bentuk uang. Secara keseluruhan negara juga dirugikan karena mempunyai rakyat yang sebagian tidak bisa kerja efisien karena sakit. Ditambah lagi negara harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengurus dan mengobati rakyat yang sakit gangguan pernafasan. Belum lagi dihitung biaya pengobatan untuk rakyat yang menderita kanker paru paru.

 

Jadi, kalau dilihat secara kasarnya (tanpa perhitungan ekonomi yang detail), lebih banyak ruginya ketimbang untungnya. Sekedar sebagai informasi tambahan, penyakit paru-paru adalah penyakit penyebab kematian nomor 3 di Amerika Serikat dengan total penduduk sekitar 280 juta jiwa, dan setiap tahun ada sekitar 335.000 orang meninggal karena sakit paru paru dan ada sekitar 30 juta orang yang menderita sakit paru paru kronis. Biaya untuk menanggulangi penyakit pneumonia, influenza, kondisi pernapasan akut, dan asthma adalah 34.2 milyar dollar pertahunnya, atau 324.900 milyar rupiah dengan nilai tukar US$1.00=Rp.9500.00. Angka didalam rupiah ini mungkin tidak 100 prosen tepat, tetapi paling tidak cukup mendekati, karena banyak obat obatan dan alat alat pengobatan yang diproduksi masih mengandung banyak komponen impor yang dinilai didalam dollar. Disamping itu jumlah penderita penyakit yang sama di Indonesia kemungkinan besar jumlahnya lebih besar dari jumlah penderita penyakit yang sama di Amerika Serikat.

Bagaimana kita mengatasi masalah kita bersama ini? 

 

Masalah lingkungan sebenarnya bukanlah masalah yang kompleks kalau kita mau memperhatikannya semenjak dini. Kalau kita ambil contoh sebuah rumah tangga, masalah lingkungan ini mirip seperti bagaimana kita merawat rumah tangga kita, lantai disapu dan di pel, yang pakai karpet lantainya di vakum. Pakaian sehari hari dicuci, mandi tiap pagi dan sore, sikat gigi. Air ledeng kalau tidak perlu dipakai dimatikan, lampu listrik kalau tidak dipakai dimatikan. Semua ini kita biasa lakukan dirumah, dan kalau kita lakukan setiap hari, lama lama menjadi kebiasaan yang baik. Coba bayangkan kalau kita tidak menjalankan kebiasaan baik ini, setelah satu tahun, bagaimana keadaan rumah kita, bagaimana dengan kesehatan kita? Berapa biaya yang kita harus keluarkan untuk memperbaiki rumah yang rusak dan badan yang sakit? Sekali lagi, ini hanya sekedar contoh, kami percaya bahwa para pembaca yang budiman sudah pasti sudah menjalankan ini semua. Sekarang bagaimana dengan sebuah negara yang terdiri dari kumpulan rumah tangga kita ini. Tentunya persoalan tidak sesederhana seperti sebuah rumah tangga.

 

Didalam tulisan ini ada beberapa usulan (yang mungkin sebahagian sudah dilaksanakan). Untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan kita ada beberapa jalan yang perlu kita jalankan semua secara simultan.

 

Jalan jalan tersebut yaitu melalui:

4.1. Jalur Pendidikan

4.2. Perundang undangan

4.3. Pelaksanaan Undang Undang

4.4. Teknologi

4.1. Jalur Pendidikan

 

Pendidikan dapat dilakukan didalam jalur informal (didalam rumah tangga dan tempat tempat ibadah) dan jalur formal melalui sistim sekolah yang dimulai dari Taman Kanak Kanak sampai dengan Universitas. Melalui penjelasan penjelasan yang diberikan oleh Kantor Kantor Lingkungan kepada komunitas setempat. Misalnya penjelasan mengenai akibat dari gas beracun seperti dioksin, furan, PM10, dll. kepada kesehatan manusia terutama sakit pernapasan. Berapa besar biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk merawat rakyat yang sakit pernapasan, dan berapa besar sebuah rumah tangga harus mengeluarkan biaya untuk mengobati sakit pernapasan. Semenjak kecil anak anak diajarkan dirumahnya maupun disekolah untuk cinta lingkungan dan sadar lingkungan, melalui peragaan, film film, dan yang terutama ialah orang tua memberikan contoh yang baik kepada anak anak didalam rumah tangganya masing masing.

4.2. Perundang undangan

 

Kelihatannya kita sudah mempunyai undang undang yang cukup lumayan lengkap. Misalnya Undang Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, Bab III, Pasal 7, Ayat 1 mengatakan “Setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan.” Yang dimaksudkan dengan `bidang usaha’ disini tidak harus selalu orang yang menjalankan usaha industri, sebuah rumah tanggapun bisa dimasukkan kedalam kategori sebuah usaha rumah tangga. Karena ada orang tua dan anak anak, usaha rumah tangga adalah usaha untuk menghidupkan rumah tangga, membesarkan, mendidik, menyekolahkan anak anak dlsb. Untuk ini semua diperlukan energi, dan hasil pembakaran energi menghasilkan polusi.

 

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor KEP-02/MENKLH/I/1988 Tanggal 19 Januari 1988, kita juga sudah mempunyai batasan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Mutu Udara Emisi. Didalam hal ini baku mutu udara emisi tidak harus selalu diterapkan kepada industri saja, bisa juga diterapkan kepada industri rumah tangga. Apabila sebuah rumah tangga memproduksi polusi dalam jumlah yang kelihatan kecil padahal cukup berarti, maka untuk ribuan rumah tangga akan menimbulkan polusi yang cukup berarti bagi lingkungan rumah tangga tersebut.

4.3. Pelaksanaan Undang Undang

 

Dari berita berita dibeberapa surat kabar terlihat bahwa masih banyak pelanggaran undang undang lingkungan dan juga pelanggaran perijinan lingkungan. Dengan keterbukaan pers dimasa reformasi ini, sekarang kita bisa membaca/mendengar tentang masih banyaknya industri yang belum terlalu sadar lingkungan. Dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga bisa kita lihat dari 10 penyakit terbesar sakit pernapasan menduduki peringkat ke-5 (13% dari populasi) sesudah sakit infeksi kulit, demam (fever), scabies, dan diarrhea. Ada kira kira 27 juta rakyat Indonesia yang mengalami penderitaan sakit pernapasan dikarenakan polusi udara. Polusi udara terjadi karena asap buangan idustri, kebakaran hutan secara sengaja dan tidak sengaja, dan juga sistim ventilasi udara didalam rumah tangga yang kurang baik. Sebuah contoh yaitu polusi udara yang ditimbulkan oleh pabrik semen yang berlokasi di Cibinong.

4.4. Teknologi

 

Melalui teknologi kemungkinan masalah lingkungan yang kita hadapi bisa diselesaikan dengan lebih cepat lagi. Tetapi tentunya teknologi membutuhkan biaya. Diperbanyaknya pemasangan alat alat incinerator sampah disetiap daerah.

 

Ada teknologi yang kita tidak harus impor dari luar negeri. Kita bisa buat sendiri dan tentunya akan memakan biaya lebih kecil daripada impor dari luar negeri. Misalnya tungku masak yang masih banyak dipakai oleh rumah tangga rumah tangga bisa di desain supaya polusinya lebih kecil dan panasnya lebih efisien (tidak terbuang percuma) dan bahan bakarnya dibuat dari coal bricket. Disediakan tempat tempat sampah dengan kotak yang terpisah pisah untuk bahan kertas, plastik, aluminium, dan sampah makanan. Diperbanyaknya tanda tanda serta simbol simbol diberbagai tempat keramaian agar supaya masyarakat menyayangi lingkungannya. Dilakukan pencatatan rutin dibanyak lokasi setiap tahunnya, misalnya pencatatan kadar asap atau debu dan zat zat lainnya diudara (biasanya PM10 atau PM2.5, CO2, SO2, NOx, Timah Hitam/timbal/lead). Nanti akan terlihat setelah beberapa tahun akan ada penurunan yang berarti bahwa program pembersihan lingkungan berhasil. Disurat surat kabar diberitakan, misalnya tahun 2000 polusi udara dari sebuah daerah atau kota melebihi ambang batas untuk sekian hari, dan tahun berikutnya mengalami penurunan yang berarti ada perbaikan lingkungan berkat hasil program lingkungan. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai jangan membuang sampah sembarangan dan jangan membakar sampah sembarangan, pendidikan masalah lingkungan kepada anak anak disekolah serta usaha lainnya.

 

Ada pencatatan rutin dari tahun ketahun mengenai jumlah penduduk yang terserang sakit pernafasan. Apakah jumlah penduduk yang terserang sakit pernafasan berkurang setiap tahunnya atau bertambah. Dari sini kita bisa melihat apakah program penurunan polusi udara berhasil atau tidak.

(5) Kesimpulan

 

Masalah lingkungan adalah masalah kita bersama yang kita harus jaga kebersihan dan kesehatannya. Melalui perawatan rutin hari lepas hari, biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih kecil dari pada menunggu sampai lingkungan kita rusak parah dan akan memakan biaya yang besar sekali. Mengelola lingkungan dengan mengatur diri sendiri melalui kesadaran yang diperoleh dari jalur pendidikan dirumah dan dimasyarakat memberi hasil yang lebih baik dari pada sistim command-and-control karena aparat hukum yang masih sarat dengan KKN.

 

Mudah mudahan tulisan sederhana ini bisa membuat kita semakin mencintai lingkungan kita.

 

Sumber Pustaka:

(1) Kantor Environmental Protection Agency Amerika Serikat (US-EPA)

(2) Environmental News Service

(3) Guntingan guntingan berita dari harian harian Indonesia

Penulis adalah Environmental Specialist dari Fort Collins, Colorado, Amerika Serikat

E-mail: sumaikuy@aol.com

 

 

Sampah

1. Pengertian Sampah

 

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuanf dari sumber aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis (Istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink, 1996)

 

Sampah adalah sumber daya yang tidak siap pakai (Radyastuti, W. Prof, 1996)

 

2. Jenis Sampah

 

Berdasarkan asalnya, sampah padat dapat digolongkan sebagai Sampah Organik dan Sampah Anorganik.

Sampah Organik merupakan jenis sampah yang terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lainnya. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami.

 

 Sampah Anorganik merupakan jenis sampah yang berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi atau dihasilkan dari proses industri. Beberapa bahan seperti ini tidak terdapat di alam, yaitu plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian yang lain hanya diuraikan secara lambat. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga berupa botol, botol plastik, tas plastik, kaleng dan lain-lain.

 

Kertas, koran dan karton merupakan perkecualian. Berdasarkan asalnya, kertas, koran dan karton termasuk sampah organik. Tetapi karena kertas, koran dan karton dapat di daur ulang seperti sampah anorganik lain (misalnya gelas, kaleng dan plastik) sehingga dapat digolongkan sampah anorganik.

 

Berdasarkan Data Statistik Lingkungan Hidup Tahun 1992 Rata-rata komposisi sampah di beberapa kota besar di Indonesia adalah : Organik (25%), Kertas (10%), Plastik (18%), Kayu (12%), Logam (11%), Kain (11%), Gelas (11%), Lain-lain (12%).

3. Sumber Sampah

Sampah Pemukiman, Perdagangan dan Perkantoran yang disebabkan oleh :

Penduduk yang tinggal di sepanjang sungai dan pemukiman padat langsung membuang sampah ke sungai dan saluran pembuangan.

Limpasan air hujan yang membawa sampah dari pasar-pasar maupun pusat-pusat kegiatan dan pemukiman

Sampah perkantoran terdiri dari kertas, alat tulis menulis, toner foto caopy, baterai dll.

Sampah Pertanian dan Perkebunan

Sampah dari kegiatan pertanian tergolong bahan organik, seperto jerami dan sejenisnya. Sebagian besar sampah yang dihasilkan selama musim panen dibakar atau dimanfaatkan untuk pupuk.

Sampah Bangunan dan Gedung

Sampah yang berasal dari kegiatan pembangunan dan pemugaran gedung dapat berupa organik maupun anorganik. Sampah organik : kayu, bambu, triplek dll. Sampah Anorganik : semen, ubin, besi, baja, kaleng, kaca dll.

 

4. Sampah Khusus

 Sampah khusus merupakan sampah yang memerlukan penanganan khusus untuk menghindari bahaya yang akan ditimbulkannya. Sampah jenis ini meliputi :

 

 Sampah Rumah Sakit merupakan sampah biomedis, seperti sampah dari pembedahan, peralatan operasi, botol infus dan sejenisnya serta obat-obatan. Semua sampah ini terkontaminasi oleh bakteri, virus dan pembawa penyakit lainnya yang sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan sekitarnya.

 

 Baterai kering dan akumulator bekas , baterai seringkali berasal dari rumah tangga. Baterai biasanya mengandung logam berat seperti raksa dan kadmium (sangat berbahaya bagi kesehatan). Akumulator dengan asam sulfat atau senyawa timbal berpotensi memberikan bahaya bagi manusia.

 

5. Dampak sampah terhadap Manusia dan lingkungan

Terhadap Kesehatan

 

Pengelolaan sampah yang tidak memadai (pembuangan sampah sembarangan dan tidak terkontrol) dapat menimbulkan berbagai penyakit sebagai berikut :

 

Diare, kolera, tipus dan demam berdarah dapat menyebar dengan cepat karena sampah memasuki air minum

 

Cacing pita yang dapat menyebar melalui rantai makanan, dimana cacing dikonsumsi sebelumnya oleh ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan / sampah.

 

Minamata (di Jepang) disebabkan karena masyarakat mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi sampah beracun (limbah baterai dan akumulator yang dibuang di perairan umum).

 

Penyakit kulit (jamur kulit).

 

Terhadap Lingkungan

 

Cairan yang dilepaskan sampah ke saluran drainase dan air tanah sehingga mencemari sumber air tersebut. Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas-cair organik seperti metana (dapat menimbulkan bau dan gasnya dapat menimbulkan ledakan bila konsentrasinya cukup besar). http://www.bapedal-jatim.go.id/menuisi/artikel/sampah.htm

 

Thursday, 8 June 2006

Program Blogger

Assalamualaikum friend,

kasih saran ya!!!gua punya tugas yang belum selesai,makannya gua minta saran atas makalah yang gua buat!!

JUDUL LKTM

Bidang : IPA

 

PEMANFAATAN AIR LINDI (LEACHETE) SEBAGAI SUMBER ENERGI

 

Disusun oleh :

 

NAMA : Pandu Wibowow Putro

NIM : 41187005050014

FAKULTAS : TEKNIK

JURUSAN : Komputer

 

UNIVERSITAS ISLAM “45” (UNISMA)

BEKASI

2006

 

Daftar Isi

Halaman Judul ……………………………………………………………………………

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………….

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah………………………………………………….

1.2. Alasan Pemilihan Judul…………………………………………………..

1.3. Perumusan Masalah……………………………………………………….

1.4. Metode Penulisan………………………………………………………….

1.5. Sistematika Pembahasan………………………………………………..

BAB II DILEMA SAMPAH DI BANTARGEBANG

2.1. Sengketa Tanah TPA Bantargebang………………………………..

2.2. TPA Bantargebang Menjadi Oase bagi Pemulung…………….

2.3. Dampak TPA Bantargebang terhadap Linkungan……………..

BABIII Usaha-usaha untuk Menanggulangi Masalah Bantargebang

3.1. Upaya Mengatasi dari Hulu (Sumbernya)………………………………………………

1) Sistem dikubur………………………………………………………………………………

2) Sistem dibakar……………………………………………………………………………….

3) Sistem sanitary lindfill…………………………………………………………………….

3.2. Upaya Mengatasi dari Hilir………………………………………………………………….

3.3. Sistem Sanitary Landfill………………………………………………………………………

BAB IV PEMANFAATAN SAMPAH

4.1. Jenis-jenis Sampah…………………………………………………………………..

4.2. Pemanfaatan Air Lindi (Leachete)……………………………………………..

4.3. Pengelolaan Sampah Menjadi Sampah Menjadi Pupuk………………..

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan……………………………………………………………………………………….

5.2. Saran-saran………………………………………………………………………………………..

 

KATA PENGANTAR

 

 

Segala puji bagi Allah Swt, yang telah memberikan limpahan rahmat, karunia dan hidayahnya. Sehingga penulis dapat merampungkan karya tulis yang sederhana ini.

 

Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarganya, sahabatnya, serta umatnya yang istiqomah mengikuti jejak langkahnya sampai hari kiamat. Amin.

 

Karya Tulis ini dibuat untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) yang diadakan oleh Dikti, selain dari itu, penulis juga ingin menyumbangkan pemikiran/ solusi masalah sampah perkotaan yang menjadi ancaman masyarakat sekitarnya, bahkan menjadi masalah yang sampai saat ini belum ada solusi yang efektif untuk mengatasinya.

 

Dalam Karya Tulis ini, penulis mencoba memaparkan permasalahan sampah di perkotaan, dan cara untuk mengatasinya. Sampah adalah sumber bencana, karena dari sampah akan menimbulkan banyak penyakit, diantaranya ; penyakit kulit, penyakit TBC, diare, dan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Tetapi di sisi lain ada sebagian orang (Pemulung) menganggap sampah adalah sumber rezeki. Memang sampah bisa dikatan sumber rezeki bila kita kelola dengan baik. Dengan adanya pengelolaan ini, semoga dapat meminimalisir volume sampah yang kian hari kian meningkat.

 

Hal ini disebabkan oleh tidak seimbangnya Tempat Pembuangan Sampah (TPA) dengan volume sampah yang di buang .

Penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis ini, tidak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

 

1. Ayah dan Ibu uang telah temberikan dukungan moral dan materil

2. Dosen Pembimbing

3. Ibu loes .w . Lc Sebagai Pembiana Kemahasiswaan

4. Rekan-rekan Mahasiswa yang turut menyumbangkan tenaga dan pemikirannya dan,

5. Saudara/saudari yang turut membantu selesainya Karya Tulis ini

 

Demikianlah gambaran dari Karya Tulis ini, semoga dapat bermanfaat bagi diri penulis sendiri dan umumnya bagi para pembaca, kami menyadari dalam pembuatan Karya Tulis ini, ada banyak kekurangan baik dalam penulisan maupun dari pembahasanya. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami butuhkan untuk memperbaiki Karya Tulis ini.

 

 

Bekasi , 21 Mei 2006

 

Penulis

 

 

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

 

1.1. Latar Belakang Masalah

 

Ada pemeo mengatakan bahwa jika ingin tahu keadaan dapur seseorang lihatlah sampah yang dibuangnya setiap hari. Hal ini tidak salah, sebab setiap rumah tangga menghasilkan yang mungkin berbeda satu sama lain.

Demikian pula jika kita ingin melihat keadaan dapur kota Bekasi, lihat saja sampah di Bantargebang yang luasnya mencapai 108 Ha dengan kapasitas sampah 1000 ton lebih per tahun.

 

Masalah sampah memang menjadi musuh masyarakat, yang sampai saat ini belum ada solusi yang tepat untuk mengatasinya. Hal ini menjadikan banyaknya sampah yang dibuang bukan pada tempatnya oleh masyarakat itu sendiri, maka dari itu tempat pembuangan sampah menjadi tidak diperlukan lagi. Dengan adanya kesadaran dari kita sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya setidaknya bisa meminimalisir sampah di masyarakat baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan.

Setidaknya ada tiga solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut diantaranya, dengan sistem penimbunan, sistim pembakaran dan sistim “sanitary land fill”. Adapun ketiga solusi tersebut akan dibahas pada Bab selanjutnya.

Sebenarnya masalah sampah itu jika dikelola secara profesional dapat menghasilkan banyak manfaat seperti ,dapat didaur ulang, pembuatan pupuk organik, sumber energi, dan lain –lainnya. Akan tetapi yang terjadi sekarang sampah dikelola seadanya akibatnya masyarakat menjadi resah.

1.2. Alasan Pemilihan Judul

Adapun penulis memilih judul ini dengan beberapa alasan sebagai berikut :

a) Sampah merupakan masalah kompleks perkotaan

b) Belum ada solusi yang tepat untuk mengatasinya

c) Masalah sampah adalah masalah yang dilematis

1.3. Perumusan Masalah

Dalam karya tulis ini penulis hanya membahas 3 perumusan masalah sebagai berikut:

a) Bagaimana sejarah TPA di Bantargebang ?

b) Usaha- usaha apa saja yang telah dilakukan pemerintah dalam mengatasi TPA Bantargebang yang semakin meresahkan masyarakat Bekasi ?

c) Bagaimana cara menyelesaikan masalah sampah Bantargebang yang menjadi dilema antara pemulung dengan pemerintah ?

d) Apa yang dimaksud air lindi (leachete) ? dan bagaimana cara pemanfaatannya ?

1.4. Metode Penulisan

Metode yang digunakan penulis dalam menyusun karya tulis ini adalah metode Ribrary Research yaitu teknik pengumpulan data dengan mempelajari buku-buku bacaan yang sesuai dan berkaitan dengan masalah yang sedang dibahas dalam karya tulis ini.

1.5. Sistematika Pembahasan

Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis membagi menjadi tiga Bab dengan rincian sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

1.6. Latar Belakang Masalah

1.7. Alasan Pemilihan Judul

1.8. Perumusan Masalah

1.9. Metode Penulisan

1.10. Sistematika Pembahasan

BAB II DILEMA SAMPAH DI BANTARGEBANG

2.1. Sengketa Tanah TPA Bantargebang

2.2. TPA Bantargebang Menjadi Oase bagi Pemulung

2.3. Dampak TPA Bantargebang terhadap Linkungan

BAB III Usaha-usaha untuk Menanggulangi Masalah Bantargebang

3.1. Upaya Mengatasi dari Hulu (Sumbernya)

1) Sistem dikubur

2) Sistem dibakar

3) Sistem sanitary lindfill

3.2. Upaya Mengatasi dari Hilir

B IV PEMANFAATAN SAMPAH

4.1. Jenis-jenis Sampah

4.2. Pemanfaatan Air Lindi (Leachete)

4.3. Pengelolaan Sampah Menjadi Sampah Menjadi Pupuk

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan

5.2. Saran-saran

BAB II

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1. Jakarta Menuju Zero Waste (Bebas Sampah)

 

Disadari atau tidak, setiap hari Kota Jakarta menghasilkan 25.650 meter kubik atau lebih dari 6.000 ton (1 ton = 4 m3) sampah organik dan anorganik. Dari jumlah itu, sampah yang tertampung hanyalah 88 persen atau sekitar 22.500 m3. Berarti sisanya 3.150 m3 tidak terangkut dan diserahkan kepada masyarakat untuk menanggulanginya sendiri.Jika dihitung-hitung, dengan asumsi jumlah sampah yang tidak terangkut dalam sehari seperti itu, berarti Jakarta akan dipenuhi sampah sebanyak 22.050 m3 setiap minggu. Dalam sebulan terdapat 94.500 m3 sampah tersebar di Ibu Kota, sementara. Kalau setahun bisa mencapai sekitar 1, 134 juta m3 maka dalam sepuluh tahun ke depan sampah yang tidak terangkut menjadi 11,34 juta m3 atau 2,835 juta ton sampah.

Itu artinya, Kota Jakarta yang memiliki luas daratan 661,52 km2 dengan 13 sungai yang masuk, serta saluran dan kanal akan semakin terdesak hanya oleh sampah. Sulit dibayangkan bagaimana jorok dan baunya Ibu Kota.

Jangankan membayangkan sepuluh tahun, lima tahun mendatang saja, jika tidak segera dituntaskan persoalan sampah menjadi kengerian tersendiri bagi warga. Jakarta akan menjadi sangat dekil dan kotor karena tertutup sampah.

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya Jakarta kalau di mana-mana sudah dipenuhi sampah. Mau keluar dari rumah saja sudah ketemu dengan sampah. Di jalan, di taman, dan di mana saja kita jalan ketemu sampah. Apa itu tidak membuat warga Jakarta pusing,” kata Ketua Komisi D (Bidang Pembangunan) DPRD DKI Jakarta Sayogo Hendrosubroto.

Dinas Kebersihan DKI menyebutkan, produksi sampah di Jakarta mulai tahun 1997 sampai tahun 2000 terus mengalami penurunan. Tahun 1997, produksi sampah mencapai sebanyak 29.568 m3 per hari dengan volume terangkut 22.506 m3 per hari.

Produksi sampah tahun 1998 sebanyak 28.145 m3 per hari dan yang terangkut 21.870 m3 per hari, tahun 1999 dengan produksi sampah turun menjadi 25.771 m3 per hari yang terangkut 22.722 m3 per hari, sementara pada tahun 2000 tercatat produksi sampah mencapai 25.650 per hari dan yang terangkut 22.500 m3 per hari.

Produksi sampah ini hanyalah dari rumah tangga, belum termasuk dengan sampah dari negara lain yang masuk ke Jakarta, antara lain barang bekas elektronik dan sebagainya.

Di lapangan, masyarakat masih bisa menyaksikan pemandangan tumpukan sampah masih tersebar di mana-mana. Di kawasan Jakarta Utara, misalnya, tumpukan sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap bisa dilihat di pinggir jalan Jembatan Cilincing yang setiap harinya masih menumpuk karena terlambat diangkut. Juga di Muara Angke, di sepanjang kolong Jembatan Tol Warakas sampai ke Rawa Bebek, Penjaringan, dan Bantaran Banjir Kanal di Jalan Raya Teluk Gong Kecamatan Pejagalan.

Sebagai Ibu Kota, Jakarta sudah semestinya rapi dan bersih. Namun, ternyata untuk mengelola sampah saja tidak pernah tuntas. Berbagai upaya dan cara penanggulangan telah dilakukan, yang terjadi justru bukan menyelesaikan masalah, malah lebih memperumit persoalan.

Komisi D DPRD DKI juga agak kesal dengan Dinas Kebersihan DKI Jakarta yang dinilai tidak serius dalam menangani sampah di Ibu Kota. Menurut Sayogo, instansi terkait ini tidak pernah serius menangani sampah di Ibu Kota. “Mereka tidak memiliki kepekaan atas tuntuan kebersihan. Mana mungkin mau menangani sampah sebegitu besar, tetapi tidak punya masterplan (perencanaan) dan konsep penanganan dan pengolahan sampah secara baik. Ini berarti mereka bekerja tidak profesional,” ujar Sayogo.

Anggota DPRD sudah berulang kali meminta perencanaan dan konsep penanganan dan pengolahan sampah di DKI. Namun Dinas Kebersihan DKI bergeming. Bahkan, kata Sayogo, untuk hal yang sederhana saja, seperti peta lokasi sampah hingga kini tidak pernah dibuat dan diserahkan kepada DPRD DKI.

Komisi D DPRD DKI menyatakan, Pemda DKI dan Dinas Kebersihan DKI tetap berkutat pada keinginannya menerapkan sistem sanitary landfill yang dinilai dapat mencegah pencemaran terhadap wilayah sampah sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Padahal, sudah berulang kali diusulkan menggunakan mesin pembakaran dengan unit yang kecil dan di tempatkan di setiap kelurahan. Selain tidak membutuhkan anggaran besar, sampah yang tinggal 10 persen dari hasil pembakaran bisa terangkut seluruhnya ke TPA.

Usulan lain adalah menggunakan teknologi bio fertilizer (penanganan sampah menjadi kompos). Lagi-lagi eksekutif tidak mau. Malah karena warga Tangerang menolak sampah DKI untuk dibuang di TPA Ciangir sebagai ganti TPA Bantargebang yang tahun 2003 akan habis masa kontraknya, Pemda DKI mencari lokasi baru yang akan menjadi Bantargebang kedua, di Cikampek dan Bogor, dengan kerja sama swasta.

 

 

2.2. Sengketa Tanah TPA Bantargebang

 

Berawal dari banyaknya sampah yang di buang penduduk Jakarta, sedangkan TPA sampahnya tidak memadai. Kemudian Pemerintah DKI Jakarta memilih lahan TPA di Ujungmenteng, Jakarta Timur. Namun, tampaknya tidak strategis, karena sebagian lahannya sudah dipadati perumahan dan industri. Selanjutnya, pilihan jatuh ke wilayah luar Jakarta, yakni Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Botabek). Tentu saja, agar mudah dijangkau kendaraan truk sampah, lokasinya tidak boleh jauh dari perbatasan DKI Jakarta.

 

Akhirnya, pemerintah Jakarta menjatuhkan pilihan pada kabupaten Bekasi sebagai lokasi yang paling cocok dan strategis. Namun, mengingat rencana proyek bak sampah raksasa itu menyangkut kerja sama antar daerah, maka pembahasan pun dimatangkan dengan Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) Jabotabek dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

 

Hasilnya, diajukan dua alternatif lokasi, yakni kelurahan Medan Satria di Kecamatan Bekasi Barat yang berbatasan dengan Jakarta Timur dan bekas lahan galian tanah uruk di Kecamatan Bantargebang. Atas dasar itu, pada 30 Januari 1985, secara formal BKSP melalui sekretarisnya berkirim surat kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bekasi Suko Martono, yang intinya menyampaikan rencana DKI Jakarta untuk membebaskan tanah di dua lokasi tersebut .

 

Pembahasan pun dilakukan dalam musyawarah pimpinan daerah (Muspida) yang dihadiri unsur Pemerintah Daerah, DPRD, Kodim 0507/BS, Polres, Kejaksaan Negeri, dan Pengadilan Negeri.

Persoaalannya, lahan di sekitar Medan Satria sudah terlalu padat oleh perumahan dan areal tanaman padi. Karenanya , melalui surat balasan yang dikirimkan pada 20 Februari 1985, Suko Martono menyatakan tidak menyetujui Medan Satria dijadikan TPA sampah.

Sementara itu, mengenai lokasi pembuangan sampah di Kecamatan Bantargebang disetujui. Bantargebang dipilih karena di sana terdapat kolam-kolam raksasa ukuran ratusan hektare bekas pengerukan tanah sejak 1978. Tanahnya digunakan untuk kepentingan pembangunan perumahan di Jakarta, seperti Sunter Podomoro dan Kelapa Gading, jakarta Utara. Juga, untuk perbaikan Jalan di Narogong.

Sehubungan dengan pelaksanaan pembuangan sampah tersebut, Suko berjanji akan menjamin kelancaran pelaksanaannya. Mengenai luas lahan dan masa pemakaiannya, dia meminta pemerintah DKI merumuskan lebih lanjut dengan pemilik tanah.

 

Berbekal rekomendasi Bupati Bekasi, Pemerintah DKI Jakarta meminta persetujuan Gubernur Jawa Barat. Pertimbanganya, juga menyangkut hubungan antarprovinsi. Maka, melalui surat tertanggal 5 November 1985 yang ditujukan kepada Gubernur Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat Yogie S.M., Wakil Gubernur DKI Jakarta Bidang III Dr. H. Bun Yamin Ramto SE, memberitahukan kembali rencana Pemerintah DKI Jakarta untuk memanfaatkan tanah kritis bekas galian tanah uruk tersebut sebagai TPA sampah .

 

Untuk mempermudah Gubernur Jawa Barat Yogie S.M. dalam mempertimbangkan pemberian izin tersebut, Bun Yamin menjelaskan, berdasarkan data lokasi yang dimilikinya tanah dimaksud terletak di Desa Ciketing Udik, Desa Cikiwul, dan Desa Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang. Tanah itu dimiliki dua orang, yakni Kurnia sekitar 100 hektare dan Zaelani Zein sekitar 15 hektare.

 

Dengan proses yang begitu lama dan berbelit-belit, akhirnya menempuh proses pembahasan melalui BKSP Jabotabek melalui dua kesempatan. Kesempatan pertama, DKI Jakarta telah menghubungi Bupati Bekasi, Camat Bantargebang, lurah, dan masyarakat setempat. Pada kesempatan kedua, pemilik lahan telah menyetujui rencana tersebut dan telah mengirimkan penawaran harga tanahnya kepada DKI Jakarta.

2.3. Dampak dari Limbah Sampah Terhadap Lingkungan

1. Sampah dapat menghasilkan Bahan Bahaya Beracun (B3)

Sampah atau limbah dari alat-alat pemeliharaan kesehatan merupakan suatu faktor penting dari sejumlah sampah yang dihasilkan, beberapa diantaranya mahal biaya penanganannya. Namun demikian tidak semua sampah medis berpotensi menular dan berbahaya. Sejumlah sampah yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas medis hampir serupa dengan sampah domestik atau sampah kota pada umumnya. Pemilahan sampah di sumber merupakan hal yang paling tepat dilakukan agar potensi penularan penyakit dan berbahaya dari sampah yang umum.

Sampah yang secara potensial menularkan penyakit memerlukan penanganan dan pembuangan, dan beberapa teknologi non-insinerator mampu mendisinfeksi sampah medis ini. Teknologi-teknologi ini biasanya lebih murah, secara teknis tidak rumit dan rendah pencemarannya bila dibandingkan dengan insinerator.

Banyak jenis sampah yang secara kimia berbahaya, termasuk obat-obatan, yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas kesehatan. Sampah-sampah tersebut tidak sesuai diinsinerasi. Beberapa, seperti merkuri, harus dihilangkan dengan cara merubah pembelian bahan-bahan; bahan lainnya dapat didaur-ulang; selebihnya harus dikumpulkan dengan hati-hati dan dikembalikan ke pabriknya. Studi kasus menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip ini dapat diterapkan secara luas di berbagai tempat, seperti di sebuah klinik bersalin kecil di India dan rumah sakit umum besar di Amerika.

Sampah hasil proses industri biasanya tidak terlalu banyak variasinya seperti sampah domestik atau medis, tetapi kebanyakan merupakan sampah yang berbahaya secara kimia.

2. Sampah adalah Sumber Penyakit

Sampah memang berbahaya bagi lingkungan , selain dapat menghasilkan bahan beracun (B3) tetapi juga sumber penyakit, seperti yang terjadi di TPA Bantargebang Bekasi.

 

Pencemaran yang menimbulkan penyakit di sekitar TPA Bantargebang ada benarnya kepala puskesmas kecamatan Bantargebang Astelyta mengungkapkan, penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) menjadi penyakit utama di Kecamatan Bantargebang.

Berdasarkan data yang diperoleh dari puskesmas Bantargebang sampai Juli 2001, dari 2.018 pengunjung puskesmas terdapat 812 atau setara dengan 40,3 persen pasien ISPA. Setelah penyakit itu, ada penyakit karies gigi 419(24,57 persen), gastritis atau lambung 205 (10,15 persen), diare 199 (9,87 persen), kulit 112 (5,55 persen), anemia 56 (2,77 persen), peningitis atau tenggorokan 44 (2,8 persen), mata 39 (1,59 persen), stomatitis atau sariawan 24 (1,18 persen), disentri 31 (1,59 persen). (Koran Tempo, 3 september 2001).

 

”Penyebab utama ISPA adalah polusi udara dariTPA Bantargebang”, kataAstelyta. Dari jumlah tersebut, sebagian diidap oleh pemulung usia produktif yang betempat tinggal di dalam lokasi TPA. Sedangkan pemulung yang tinggal di luar TPA lebih sedikit yang menderita ISPA.

 

Ketika diplomasi dan proses administrasi pemerintahan berlangsung antara DKI Jakarta dan Kota Bekasi, di lapangan telah terjadi berbagai kasus yang merugikan Pemda dan rakyat Bekasi. Setelah kita amati terdapat dua kerugian bagi rakyat Bekasi, khususnya warga yang berdomisili di sekitar TPA tersebut.

 

1) Pencemaran terhadap lingkungan

Lingkungan adalah salah satu faktor pendukung keberlangsungan hidup kita, lingkungan yang asri, udaranya sejuk, dan suasananya nyaman dan bersih dapat membut hidup kita sehat dan penuh semangat. Tetapi sebaliknya, jika lingkungan kita penuh dengan sampah, asap yang tidak layak dihirup karena mengandung racun, bau sampah yang menusuk ke hidung dan masih tercium dari radius belasan kilometer sehingga mengganggu pernapasan warga. Selain itu, rembesan air sampah (lindi) membuat tanah menjadi kritis, tidak bisa ditanami akibat terkena racu (zat kimia) yang terkandung dalam air lindi tersebut.

 

DKI Jakarta sebagai ibu kota negara yang terus membenah diri menjadi kota yang maju dengan fasilitas lengkap membuat banyak penduduk desa yang mengadu nasib di Kota Metropolitan itu (Urbanisasi), dengan harapan mudah mencari pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Namun, itu semua hanyalah ”utopis” penduduk desa, yang terlena dengan isu-isu bohong yang didengungkan oleh banyak orang. Pada kenyataannya Jakarta menjadi kota yang keras, kapitalis, dan degradasi moral yang buruk. Siapa yang kuat dia yang menang dan yang lemah akan semakin tersisihkan. Karena banyaknya penduduk desa yang pergi ke Jakarta membuat Jakarta menjadi kota yang padat penduduk, sehingga Jakarta menjadi kota yang sering terkena banji. Jadi, hal yang sepele jika tidak ditangani dengan serius akan menibulkan musibah besar. Tentunya kita masih ingat, musibah yang terjadi di Leuwigajah puluhan orang meninggal dunia akibat tertimbun ”Bukit Sampah”.

 

2) Pengaruh terhadap kesehatan warga

Pencemaran yang menimbulkan penyakit di sekitar TPA Bantargebang ada benarnya kepala puskesmas kecamatan Bantargebang Astelyta mengungkapkan, penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) menjadi penyakit utama di Kecamatan Bantargebang.

Berdasarkan data yang diperoleh dari puskesmas Bantargebang sampai Juli 2001, dari 2.018 pengunjung puskesmas terdapat 812 atau setara dengan 40,3 persen pasien ISPA. Setelah penyakit itu, ada penyakit karies gigi 419(24,57 persen), gastritis atau lambung 205 (10,15 persen), diare 199 (9,87 persen), kulit 112 (5,55 persen), anemia 56 (2,77 persen), peningitis atau tenggorokan 44 (2,8 persen), mata 39 (1,59 persen), stomatitis atau sariawan 24 (1,18 persen), disentri 31 (1,59 persen). (Koran Tempo, 3 september 2001).

 

”Penyebab utama ISPA adalah polusi udara dariTPA Bantargebang”, kataAstelyta. Dari jumlah tersebut, sebagian diidap oleh pemulung usia produktif yang betempat tinggal di dalam lokasi TPA. Sedangkan pemulung yang tinggal di luar TPA lebih sedikit yang menderita ISPA.

BAB III

USAHA-USAHA UNTUK MENANGGULANGI MASALAH SAMPAH

DI PERKOTAAN

 

Sampah merupakan sisa dari aktivitas manusia yang kian hari masalahnya makin kompleks. Dapat kita amati di berbagai sudut kota terdapat onggokan sampah yang tidak terangkut dan menimbulkan persoalan bagi lingkungan. Persoalan yang umumnya timbul akibat pembuangan sampah yang dilakukan secara sembarangan adalah terjadinya pencemaran lingkungan, estetika lingkungan menjadi kurang baik, dan bahkan dapat menyebabkan banjir. Persoalan ini muncul disebabkan oleh terbatasnya kapasitas pelayanan yang dimiliki pemerintah daerah atau pemerintah kota setempat, sedangkan laju produksi sampah terus meningkat secara eksponensial.

Persoalan pencemaran lingkungan tidak saja menyangkut sampah yang tidak terangkut sebagaimana yang telah diuraikan, tetapi juga sampah terangkut ke TPA. Di daerah perkotaan sangat sulit untuk mencari lahan yang dapat digunakan untuk TPA (tempat pembuangan akhir). Hal ini selain harganya yang cenderung sangat mahal juga selalu berhadapan dengan reaksi masyarakat yang cenderung negatif. Sikap resistensi masyarakat yang paling utama disebabkan oleh persoalan pencemaran lingkungan yang diakibatkan penumpukan sampah secara open dumping di TPA, baik menyangkut pencemaran udara, air, maupun pencemaran tanah.

Persoalan sampah sebagaimana digambarkan di atas merupakan persoalan umum yang dihadapi berbagai kota di Indonesia, apalagi kota metropolitan dan kota-kota besar. Persoalan tersebut hingga kini masih merupakan persoalan dan tampaknya belum ada solusi yang dianggap efektif untuk mengatasinya.

3.1.1. Miniminimalisir Sampah

Persoalan dalam mengatasi sampah perkotaan termasuk dampak negatif dari sampah sebagaimana telah dikemukakan muncul salah satunya karena pada umumnya konsep penanganannya masih menggunakan pola wadah-kumpul-angkut-buang. Pola tersebut tidak mengenal pengolahan sampah, dengan sampah didaur ulang (recycling) menjadi produk yang dapat dijual atau dimanfaatkan sehingga dapat mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang ke TPA. Pendaurulangan adalah salah satu cara untuk meminimasi sampah terutama yang masuk ke TPA. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, kegiatan minimisasi sampah merupakan pilihan yang harus dipilih untuk mengatasi sampah perkotaan.

Saat ini telah banyak dikembangkan pemikiran-pemikiran atau konsep pengelolaan sampah perkotaan yang mengarah pada upaya minimisasi sampah. Pemikiran-pemikiran tersebut dalam rangka menekan segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah (reduce), memanfaatkan kembali sampah yang dapat digunakan (reuse) dan melakukan pendaurulangan (recycling), sehingga program tersebut dikenal sebagai program 3R.

3.1.2. Ubah Paradigma Masyarakat

Untuk mewujudkan upaya minimisasi sampah dengan cara pendaurulangan maka paradigma bahwa “sampah merupakan sosok materi yang tidak berguna” harus diubah menjadi “sampah merupakan sosok materi yang memiliki nilai guna”. Selanjutnya perlu dikembangkan pemikiran-pemikiran tentang bagaimana upaya-upaya pemanfaatan “nilai guna” yang terkandung dalam sampah tersebut.

Upaya pemanfaatan “nilai guna” sampah saat ini sebenarnya telah banyak dilakukan oleh masyarakat. Salah satu “aktor” yang memanfaatkan hal tersebut adalah para pemulung yang memungut jenis sampah tertentu dan menjualnya ke lapak atau bandar untuk kemudian diteruskan ke industri daur ulang (recycling industry). Pemungutan sampah oleh pemulung tersebut hanya untuk sampah-sampah anorganik atau sering disebut juga sampah kering, seperti plastik, kertas, karton, dan logam. Sementara itu, untuk jenis sampah organik saat ini juga telah banyak “aktor” yang melakukan daur ulang, yaitu diolah menjadi pupuk kompos atau pupuk organik.

Walau demikian, aktivitas-aktivitas pendaurulangan sampah saat ini belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam upaya meminkan sampah kota. Agenda 21 Indonesia mengemukakan bahwa tingkat pendaurulangan dan komposting sampah di Indonesia saat ini baru 8,1% dari total produksi sampah perkotaan, dan hal tersebut belum cukup untuk mengurangi laju produksi sampah. Padahal menurut perkiraan yang dikemukakan dalam Agenda 21 Indonesia bahwa peluang pendaurulangan sampah (anorganik) mencapai 15-25% dan untuk pengomposan 30-40%.

Belum signifikannya pendaurulangan sampah baik organik maupun anorganik dalam upaya minimasi sampah saat ini menurut penulis antara lain disebabkan beberapa hal sebagai berikut:

a. Belum adanya rancangan usaha (business plan) sistem daur ulang sebagai sebuah industri dengan memperhitungkan berbagai aspek keindustrian.

b. Belum adanya sistem jaringan pemasaran pruduk-produk daur ulang sehingga tidak adanya koneksitas (linkage) baik antara produsen-konsumen, antara produsen-produsen, maupun konsumen-konsumen.

c. Kegiatan daur ulang masih dianggap sebagai usaha sampingan dan “alternatif usaha terakhir” karena tidak ada peluang lain.

d. Masih terbatasnya anggaran yang disediakan terutama oleh pemerintah daerah/pemerintah kota untuk menerapkan berbagai pemikiran yang mengarah pada kegiatan daur ulang sampah.

e. Kurangnya sosialisasi sehingga pemahaman masyarakat tentang manfaat kegiatan daur ulang baik dari segi lingkungan maupun ekonomi masih minim.

f. Kegiatan daur ulang yang ada saat ini tidak memiliki sinergi dan tidak terintegrasi dalam sistem dan manajemen sampah kota.

Masalah sampah memang menjadi masalah yang membuat Pemerintah daerah kewalahan dan meresahkan warga sekitar. Maka dari itu masalah sampah harus diselesaikan secara konperehensif, mengapa demikian ? karena jika ingin mengatasi sampah tersebut, kita harus tahu di mana sumber sampah tersebut dan kita harus menbuat pencegahan secara preventif. Oleh karena itu, kita mengatasi secara konperehensif, yaitu dari hulu sampai ke hilir .

1) Upaya Mengatasi di Hulu (sumbernya)

Untuk mengatasi sampah di hulu, setidaknya ada tiga sistem , yakni dikubur, dibakar, dan sanitary landfill. Untuk lebih jelasnya, penulis akan membahas ketiga sistem tersebut.

 

a) Sistem dikubur

Cara ini adalah cara mengatasi sampah secara konvensional, pertama-tama sampah dipadatkan. Kemudian sampah tersebut ditanam di dalam tanah dengan kedalaman tertentu. Untuk menghindari rembesan limbah, sampah dikubur pada galian dengan dasar terbuat dari tanah liat setebal 5 meter atau dibuat penadah plastik khusus. Lapisan ini untuk mencegah kebocoran yang bisa menyebabkan tanah tercemar. Risikonya, dasar pengaman dapat dihancurkan oleh pelarut kimia tertentu yang digunakan industri.

 

b) Sistem pembakaran

Sampah dibakar menggunakan incinerator dengan suhu di atas 1.000 derajat Celsius. Lama pembakaran, suhu, dan campuran oksigen yang tepat dapat dihancurkan 99,9 persen sampah. Asap yang dikeluarkan diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke udara bebas. Abu sisa pembakarannya dapat dijadikan bahan bangunan. Risikonya, pembakaran yang tidak selesai dapat menyisakan dioksin dan senyawa berbahaya lainnya yang bercampur debu dan asap. Dioksin merupakan senyawa penyebab kanker .

Incinerator dengan bahan bakar minyak solar itu hanya menghasilkan panas pembakaran sekitar 500 derajat Celsius. Padahal, untuk menghasilkan pembakaran sempurna perlu suhu 1.000 derajat Celsius. Incinerator dengan suhu tinggi itu pernah ditawarkan investor kepada DKI Jakarta. Untuk kapasitas 1.000 ton diperlukan investasi lebih dari Rp 1 triliun dan biaya perawatan Rp 184 miliar per tahun.

 

Konsekuensinya tentu saja adalah peningkatan retribusi sampah. Menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim, dengan subsidi silang, tiap keluarga mampu akan dikenai retribusi Rp 200.000 per bulan, sedangkan untuk ekonomi lemah Rp 10.000. Karena itu, ia berpendapat sistem incinerator hanya bisa diterapkan bila kondisi keuangan masyarakat telah memungkinkan .

 

c) Sistem sanitary lindfill

Diatara ketiga sistem itu, sanitary lindfill merupakan cara yang paling ideal untuk mengatasi masalah sampah di Bantargebang, sanitary lindfill sudah dibuktikan di negara-negara maju, dan amat cocok di Indonesia. Dari segi lahan, di sekitar Jakarta masih tersedia lahan yang cukup luas. Sistem yang mudah dioperasikan ini juga untuk sumber daya manusia yang rata-rata SLTP-SMA dengan pengerjaan bersifat massal atau padat karya.

 

Keuntungan lainnya, timbunan sampah yang sudah lama atau matang di dalam zona, dilihat dari segi bisnis sangat menguntungkan. Sampah organiknya dapat diolah dengan teknologi canggih maupun sederhana menjadi kompos. Limbah kertasnya dapat didaur ulang menjadi pulp sebagai bahan kertas. Kemudian limbah tekstilnya dihancurkan sebagai bahan pengisi dan isolasi, diinsenirasi sebagai penghasil panas. Limbah gelas yang masih utuh dalam bentuk botol dapat dibersihkan untuk dipakai kembali, dihancurkan sebagai bahan pembuat gelas baru, dicampur aspal untuk pembuatan jalan, dicampur pasir dan bata semen, dan banyak lagi manfaat yang belum tergali oleh penliti sampah.

 

Hal ini menegaskan TPA Bantargebang selain menimbulkan penyakit,juga menjadi alternatif penanggulangan pengangguran. Terbukti, sekitar 5000 berebut rezeki di sana.

Menurut konsepnya, sistem sanitary lindfill di lahan 108 hektare itu cukup aman jika ditinjau dari lingkungan hidup. Adapun proses kerjanya, pemusnahan sampah mula-mula dilakukan dengan cara menimbun sampah sampai belasan meter dengan beberapa lapisan. Pada lapisan pertama sampah ditimbunsetinggi 2 meter, lalu dilapisi tanah merah setinggi 15 sentimeter. Begitu setrusnya sampai 6 lapis.

 

Di antara lapisan dibuat ventilasi menggunkan pipa paralon agar gas bisa di keluarkan ke udara bebas, sehingga tidak menimbulkan ledakan dari dalam timbunan sampah. Untuk menghindari kebocoran yang berdampak pada pencemaran, sampah dibuang dan ditimbun dengan rapat. Leachete yang masuk ke IPAS, diolah menambah oksigen melalui alat diffuser dan aerator. Setelah dianggap aman, tidak mempengaruhi air dan tanah, limbah dibuang ke kali.

 

Gambar 1.1. Sistem Sanitary Lindfill

3.1.2. Upaya Mengatasi dari Hilir

Produksi Bersih (Clean Production) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis. Prinsip-prinsip Produksi Bersih adalah:

Prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R yaitu:

1. Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.

2. Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.

3. Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.

4. Replace ( Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dnegan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidk bisa didegradasi secara alami.

5.

 

3.1.3. Konsep Industri Kecil Daur Ulang (IKDU) Solusi Alt ernatif

Industri Kecil Daur Ulang (IKDU) merupakan gagasan yang diusulkan untuk meminimasi dan mengatasi masalah sampah perkotaan. Dengan cara menumbuhkembangkan IKDU di masyarakat dalam jumlah yang banyak dengan memperhitungkan berbagai konsep usaha (economic feasible) diharapkan gagasan tersebut dapat mengurangi sampah secara signifikan dan juga dapat dijadikan peluang usaha bagi masyarakat.

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh IKDU dalam rangka pendaurulangan sampah dapat dilakukan dengan dua cara:

1. Pengolahan jenis sampah tertentu (anorganik) menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi. Contoh usaha yang dapat dilakukan antara lain, a) Mengolah sampah plastik menjadi produk-produk yang terbuat dari bahan plastik, seperti gulungan benang, piring, baskom, dan lain-lain; b) Mengolah sampah kertas menjadi menjadi kertas daur ulang (recycling paper) atau menjadi karton. Kertas daur ulang banyak digunakan untuk produk-produk kerajinan, seminar kit, dan kebutuhan percetakan lainnya.

2. Mengelola dan mengolah semua jenis sampah (organik dan anorganik) dalam sebuah kawasan (perumahan, pasar, kawasan industri). Dengan demikian maka yang dilakukan IKDU mulai dari pengumpulan sampai sampah tersebut diolah di suatu lokasi setara dengan TPS (tempat penampungan sementara).

Di lokasi pengolahan, sampah organik diolah menjadi kompos, kemudian sampah anorganik diolah baik menjadi produk jadi (kertas daur ulang), produk setengah jadi (untuk plastik), atau hanya di-packing untuk kemudian dijual (logam, gelas, kardus). Sementara itu residu sampah atau sampah yang tidak dapat didaur ulang dapat dibakar pada insenerator. Dengan cara ini dimungkinkan terjadi zero waste condition di kawasan tersebut.

Untuk mendukung proses pengolahan sampah oleh IKDU perlu didukung teknologi atau mesin yang sesuai dengan jenis sampah yang diolah. Saat ini telah banyak teknologi atau mesin-mesin yang dapat digunakan untuk pendaurulangan sampah, baik teknologi tepat guna maupun teknologi canggih yang berasal dari luar negeri. Di Indonesia sendiri teknologi daur ulang sampah telah banyak dikembangkan baik oleh lembaga-lembaga penelitian teknologi seperti BPPT, perguruan tinggi, maupun oleh individu-individu. Untuk mendukung konsep IKDU ini penulis bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Teknologi ITB.

Kemudian, pengelola IKDU ini sebenarnya bisa individu-individu atau perusahaan swasta, namun penulis mengusulkan wadah IKDU tersebut berupa Koperasi Warga (Kopaga). Kopaga adalah koperasi yang dibentuk oleh warga setempat, yang sampahnya akan ditangani. Mengapa untuk mengelola dan mengolah sampah dilakukan oleh koperasi yang dibentuk warga setempat karena untuk mengatasi sampah yang makin kompleks perlu melibatkan sebanyak mungkin masyarakat. Walau demikian, masyarakat akan tertarik melakukan aktivitas tersebut apabila memang memberikan keuntungan (profit). Untuk itulah, IKDU harus dirancang sedemikian rupa sehingga memberikan keuntungan bagi pihak pengelolanya (dalam hal ini Kopaga).

Pendapatan Kopaga sebagai pengelola IKDU diperoleh dari hasil penjualan materi daur ulang yang diolah. Kemudian apabila IKDU tersebut tidak hanya mengolah, tetapi mengelola sampah dalam kawasan maka pendapatan tidak hanya dari hasil penjualan tapi juga dari retribusi sampah yang dipungut dari masyarakat yang sampahnya dikelola oleh IKDU tersebut.

Keberhasilan penerapan IKDU tersebut akan bergantung pada banyak faktor, baik menyangkut wilayah atau kawasan yang layak dikelola IKDU, sumber keuangan, serta berbagai hal yang memiliki kaitan baik langsung maupun tidak langsung. Untuk itulah, dengan melihat berbagai persoalan daur ulang selama ini serta memerhatikan pengalaman penerapan konsep sejenis di luar negeri, maka untuk menerapkan IKDU tersebut dibuat dalam skenario sebagai berikut:

1) Semua jenis sampah yang dihasilkan dari kawasan yang dikelola IKDU tertutup kemungkinan untuk keluar dari kawasan tersebut tanpa melalui IKDU termasuk aktivitas pemulung yang juga harus diakomodasikan dalam manajemen IKDU;

2) Efisiensi produksi diperhitungkan dengan pertimbangan kondisi mesin dan kondisi material sampah; 3) Manajemen organisasi Kopaga IKDU mencerminkan pola manajemen yang profesional dengan mengutamakan kemampuan (skill and attitude) dalam merekrut dan menempatkan personel, dan untuk level operasional sebaiknya melibatkan para pemulung;

4) Keberadaan Kopaga IKDU membentuk jaring kerja (networking) baik dengan Kopaga IKDU lain, perguruan tinggi, lembaga keuangan, Departemen Pertanian, industri daur ulang, agro industri, pemerintah, dan lain-lain; 5) Pihak yang ditunjuk Pemda dalam mengelola persampahan seperti Dinas Kebersihan diberi tanggung jawab untuk menyosialkan dan menyukseskan IKDU dan menjadi holding company bagi setiap IKDU;

6) Hasil retribusi sampah dari kawasan yang sampahnya dikelola oleh IKDU, masuk ke manajemen IKDU; 7) Besarnya tarif retribusi disesuaikan dengan tarif yang diatur dalam Peraturan Daerah. 8) Tarif retribusi dievaluasi setiap tiga tahun dan mengalami kenaikan minimal 10% per tiga tahun;

9) Biaya investasi IKDU disediakan oleh Pemerintah Daerah atau Pemerintah Kota atau dari sumber hibah lainnya; 10) Program penerapan IKDU dalam sistem manajemen sampah kota perlu dibuat kebijaksanaannya secara nasional dan aturan teknisnya dibuat oleh Pemerintah Daerah/Pemerintah Kota;

11) Untuk mewujudkan program tersebut dalam rangka menuju zero waste condition maka perlu ditunjuk komisi khusus atau lembaga khusus secara nasional yang memiliki kaitan atau jaringan dengan institusi pengelola sampah di Pemerintah Daerah; 12) Setiap daerah menyiapkan paling tidak dua buah percontohan Kopaga IKDU dengan melibatkan perguruan tinggi atau lembaga penelitian teknologi.

13) Untuk melakukan sosialisasi IKDU ke masyarakat, pemda setempat dapat bekerja sama dengan kalangan perguruan tinggi serta LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat); 14) Pemilahan sampah dilakukan di sumber sampah, dengan memisahkan antara “sampah basah” dan “sampah kering” dengan menggunakan dua wadah yang berbeda;

15) Untuk rumah tangga yang ada di kompleks perumahan dan menggunakan wadah sampah yang terbuat dari pasangan bata maka setiap rumah dapat membuat “kesepakatan” dengan tetangganya untuk menyiapkan wadah sampah untuk dua jenis sampah (“sampah basah” dan “sampah kering”); 16) Pemisahan juga dapat dilakukan dengan cara sampah dimasukkan ke dalam kantong kresek yang berbeda untuk “sampah basah” dan “sampah kering” sebelum dimasukkan ke wadah pasangan bata;

17) Masyarakat yang melakukan pemilahan sampah di rumah tangga dapat diberi kompensasi pupuk kompos secara gratis; 18 Pengumpulan sampah oleh IKDU dilakukan dengan menggunakan gerobak yang berbeda atau waktu yang berbeda antara “sampah basah” dan “sampah kering”.

Analisis manfaat penerapan IKDU

Apabila konsep IKDU ini dapat diterapkan di berbagai kota yang terintegrasi dengan sistem manajemen sampah kota tersebut maka dapat memberikan manfaat baik yang bersifat terhitung (accountable) maupun yang tak terhitung (encountable).

Manfaat-manfaat tersebut adalah: 1) Manfaat lingkungan, manfaat ini dapat berupa (a) kondisi lingkungan akan lebih baik karena dengan diolahnya sampah yang biasanya dibuang ke TPA maka sampah yang masuk ke TPA akan berkurang dan beban pencemaran akibat sampah tersebut dapat dikurangi, dan (b) mengurangi ketergantungan pada TPA dalam mengelola sampah perkotaan.

2) Manfaat ekonomi, yang terdiri dari (a) penghematan biaya operasional pengelolaan sampah terutama pengangkutan dan penanganan di TPA karena sampah diolah di sumber sampah, (b) konsep IKDU akan dapat memberikan keuntungan secara finansial.

 

BAB IV

PEMANFAATAN SAMPAH

 

4.1. Jenis-jenis Sampah

 

Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2 yaitu sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sapah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dan lain sebagainya. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dan lain-lain. Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami.

Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Oleh karena itu pengelolaan sampah yang terdesentralisisasi sangat membantu dalam meminimalisir sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Selama ini pengleolaan persampahan, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sapah bersifat terpusat.

Misanya saja, seluruh sampah dari kota Jakarta harus dibuag di Tempat Pembuangan Akhir di daerah Bantar Gebang Bekasi. Dapat dibayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk ini. Belum lagi, sampah yang dibuang masih tercampur antara sampah basah dan sampah kering. Padahal, dengan mengelola sampah besar di tingkat lingkungan terkecil, seperti RT atau RW, dengan membuatnya menjadi kompos maka paling tidak volume sampah dapat diturunkan/dikurangi.

Disadari atau tidak, setiap hari Kota Jakarta menghasilkan 25.650 meter kubik atau lebih dari 6.000 ton (1 ton = 4 m3) sampah organik dan anorganik. Dari jumlah itu, sampah yang tertampung hanyalah 88 persen atau sekitar 22.500 m3. Berarti sisanya 3.150 m3 tidak terangkut dan diserahkan kepada masyarakat untuk menanggulanginya sendiri.Jika dihitung-hitung, dengan asumsi jumlah sampah yang tidak terangkut dalam sehari seperti itu, berarti Jakarta akan dipenuhi sampah sebanyak 22.050 m3 setiap minggu. Dalam sebulan terdapat 94.500 m3 sampah tersebar di Ibu Kota, sementara. Kalau setahun bisa mencapai sekitar 1, 134 juta m3 maka dalam sepuluh tahun ke depan sampah yang tidak terangkut menjadi 11,34 juta m3 atau 2,835 juta ton sampah.

Itu artinya, Kota Jakarta yang memiliki luas daratan 661,52 km2 dengan 13 sungai yang masuk, serta saluran dan kanal akan semakin terdesak hanya oleh sampah. Sulit dibayangkan bagaimana jorok dan baunya Ibu Kota.

Jangankan membayangkan sepuluh tahun, lima tahun mendatang saja, jika tidak segera dituntaskan persoalan sampah menjadi kengerian tersendiri bagi warga. Jakarta akan menjadi sangat dekil dan kotor karena tertutup sampah.

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya Jakarta kalau di mana-mana sudah dipenuhi sampah. Mau keluar dari rumah saja sudah ketemu dengan sampah. Di jalan, di taman, dan di mana saja kita jalan ketemu sampah. Apa itu tidak membuat warga Jakarta pusing,” kata Ketua Komisi D (Bidang Pembangunan) DPRD DKI Jakarta Sayogo Hendrosubroto.

 

4.2. Pemanfaatan Air Menjadi Air Akki

4.3. Pemanfaatan Air Lindi Menjadi Sumber Energi

Sampah merupakan sumber masalah bagi kota-kota besar seperti; kota Jakarta, Bandung, dan Bekasi. Sampah yang tidak ditangani dengan baik akan membawa berbagai masalah yang dapat merugikan kita semua, seperti maslah banjir, penyebaran penyakit dan masalah lainnya yang sangat meresahkan rakyat sekitar akibat bau yang ditimbulkan. Di satu sisi banyak orang yang menolak tempat kediamannya di jadikan tempat pembuangan sampah, mereka menolak karena mereka mengetahui dampak yang ditimbulkan. Di sisi lain pemerintahan kota mempunyai tugas untuk membat kotanya menjadi aman, damai dan bersih dari sampah.

Dari polemik itulah kami mencoba menawarkan solusi sampah yang sudah menjadi musuh masyarakat. Pemerintah seharusnya tidak hanya membuang sampah kota ke daerah yang menjadi tempat pembuangan sampah, akan tetapi pemerintah juga harus dapat mengatasi sampai tuntas. Sampah tidak harus kita hindari, tetapi kita harus memikirkan bagaimana cara mengani(mengolah) sampah ini, menjadi sesuatu yang dapat kita manfaatkan kembali (recycle). Sampah- sampah yang berasal dari pasar merupakan sumber energi, karena sampah tersebut banyak mengandung senyawa organik, dari senyawa inilah dapat kita proses lagi dan hasil akhirnya menjadi sumber energi yang dapat kita gunakan sebagai bahan bakar dan lain-lain.

Adapu proses pengolahan air sampah atau dapat disebut juga air lindi (leachete) menjadi sumber energi membutuhkan tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Tahap Pemilihan

2. Tahap Pemadatan

3. Tahap insinerasi

4. Tahap pengolahan

 

BAB V

PENUTUP

 

5.1.1. Kesimpulan

 

Sampah merupakan salah satu problematika di rumah tangga, rukun tetangga (RT/RW), kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, industri-industri dan bahkan negara. Sering kita menjumpai sampah dibuang dan ditumpuk di selokan, di sungai bahkan disamping jalan raya. Seperti yang terlihat di jalan WR Supratman dan masih banyak lagi tempat lain sampah dibuang berserakan dan tidak dimasukkan ke dalam tempat yang telah disediakan, tentu saja ini akan berdampak buruk terhadap keindahan dan kesehatan.

 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin disebabkan kesadaran masyarakat kurang, atau tempat sekitar bak sampah kurang mengenakkan (becek) sehingga orang malas untuk mendekat dan memilih untuk membuang sampah tersebut asal-asalan, atau mungkin juga karena kurangnya fasilitas yang disediakan oleh instansi yang terkait, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

 

Penumpukan dan pembakaran sampah di tempat pembuangan (TPS dan TPA) merupakan hal yang sering kita jumpai dan lakukan. Sebenarnya hal ini tidak menyelesaikan masalah akan tetapi hanya penyelesaian sementara dan hanya memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga akan menimbulkan masalah baru. Jadi, bagaimana dan siapa yang bertanggungjawab atas semua ini? Memang sampah merupakan masalah yang tidak ada habis-habisnya dan harus dicari solusi yang tepat serta berdaya guna dalam pengelolaannya, ini tidak hanya semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah akan tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama.

 

Disisi lain sampah memiliki nilai ekonomis yang patut dipertimbangkan, antara lain sebagai sumber; (1) pendapatan bagi sebagian orang yang bekerja sebagai pemulung; (2) pupuk organik (kompos); (3) sumber carbon (energi panas); (4) sumber uap (energi listrik); (5) material tertentu melalui daur ulang (kaca, logam, kertas, plastik, dan lain-lain)

 

Menurut Iwan Kusmarwanto, ada tiga jenis sampah yang harus dimusnahkan secara tuntas, yaitu; (1) Sampah organik, sampah yang dikategorikan jenis-jenis sampah yang dapat membusuk dengan proses secara alami dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sampah jenis ini pada umumnya berasal dari pasar-pasar tradisional, rumah tangga, perkantoran, rumah makan maupun sisa-sisa tanaman yang dipangkas atau dibuang; (2) Sampah industri, sampah yang dikategorikan sisa-sisa hasil proses produk kimiawi maupun sisa materi yang tidak diproses. Sampah semacam ini dapat dibedakan menjadi sampah B3 (beracun) dan non B3; (3) Sampah yang dapat didaur ulang, jenis-jenis sampah ini dapat dipisahkan dan memiliki nilai ekonomis seperti terbuat dari bahan plastik, kertas, kaca dan terbuat daribahanlogamlainnya. .

 

Penanganan dan pengelolaan sampah swakelola bisa dimulai dari skala yang paling kecil yaitu dari rumah tangga. Perlu ditumbuhkembangkan kedasaran membuang sampah sejak dini, mulai dari anak-anak sampai orang tua, karena pembelajaran itu berawal dari rumah tangga. Untuk itu setiap rumah tangga perlu menyiapkan tempat-tempat atau kantong-kantong untuk membuang sampah. Jika hal ini sudah bisa dilakukan di rumah, maka bukan tidak mungkin kebiasaan itu akan terbawa dan ditularkan di luar rumah, sehingga masalah sampah akan dapat diminimalisir sekecil mungkin.

 

Alangkah baiknya, sebelum sampah-sampah tersebut dibuang/ditumpuk, dipisahkan terlebih dahulu dari rumah menurut jenisnya (sampah organik yaitu sampah yang dapat dijadikan kompos dan sampah non organik yaitu yang dapat di daur ulang). Sedangkan sampah industri yang mengandung bahan beracun seperti : (a) logam berat (merkuri, timbal, kromium, cadmium dan arsenic), (b) polyvinylchloride (PVC), jika dibakar menghasilkan polychlorinated-dibenzodioxin (dioksin) yang bersifat toksit dan karsinogenik, (c) polybrominated-biphenyls (PBB), polybrominated-diphenylether (PBDE) yaitu bahan untuk mengurangi flammability (brominated flame-reterdants) yang bersifat toksit dan karsinogenik. Proses daur ulangnya sulit dan membutuhkan penanganan secara khusus serta memerlukan teknologi canggih dengan biaya sangat mahal.

 

5.1.2. Saran-saran

 

Memahami persoalan sampah memang tadaklah semudah membalikan telapak tangan. Karena sampah sifatnya dinamis, bukan statis. Saya jamin, tidak akan terjadi penumpukkan sampah selama berhari-hari. Kalau hari ini tidak terangkat, besok atau lusa sudah bertumpuk.

Permasalahannya adalah apakah sudah seusai dengan kenyataan dilapangan? Belum tentu, apalagi mengingat truk operasional yang dimiliki dinas tersebut sangat terbatas. “Dari 1.000 unit yang kami miliki, hanya 701 unit yang beroperasi. Itu pun sudah dimakan usia, rata-rata di atas delapan sampai sepuluh tahun,” katanya. Karena kekurangan armada, tahun anggaran 2002, Dinas Kebersihan DKI akan meremajakan 100 truk sampah.

Dari data yang ada, truk operasional Dinas Kebersihan yang tersebar di lima wilayah DKI Jakarta dari tahun ke tahun menurun. Pada tahun anggaran 1997/1998 terdapat sebanyak 860 unit, tahun 1998/1999 turun menjadi 743 unit, 1999/2000 menjadi 728 unit, dan tahun 2000 tinggal 710 unit.

Adalah tidak mungkin, kalau dari tahun ke tahun armada yang mengangkut sampah berkurang mampu mengefektifkan penanggulangan sampah. Kalaupun dipaksakan, itu bisa terjadi jika jumlah sampah dari masyarakat ikut berkurang. Karena seiring dengan bertambah jumlah penduduk, semakin tinggi pula tingkat kebutuhan dan sampah yang dihasilkannya.

Jadi untuk menyikapi dalam mengelola sampah agar mendapatkan hasil yang optimal, maka perlu difasilitasi oleh pemerintah/pemda/instansi terkait dan didukung oleh semua pihak misalnya dalam bentuk; (1) Sosialisasi pengelolaan dan dampak lingkungan serta kesehatan untuk menumbuhkan kesadaran dan budaya hidup bersih di masyarakat; (2) Pemilahan sampah sejak awal dimulai dari rumah tangga; (3) Pemda harus menyediakan fasilitas tempat sampah baik dari segi jumlah maupun mutu dan berdasarkan jenis sampah yang dibuang (dipisahkan); (4) Di sekolah/perguruan tinggi, jadikan sebagai salah satu mata pelajaran tambahan/wajib tentang “Pengelolaan Sampah”; (5) Ajarkan kepada masyarakat agar dapat membuat dan memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk kompos (back to nature); (6) Menerapkan dan memilih teknologi yang tepat seperti yang diterapkan di Negara-negara barat, agar pemrosesan sampah dan limbah bisa lebih efektif dan efisien serta berguna bagi masyarakat; (7) Buat Perda tentang larangan membuang sampah sembarangan. Jika semua ini dapat diwujudkan, bukan tidak mungkin kota Pontianak akan menjadi kota yang bersih dan berwawasan lingkungan; (8) Tumbuh kembangkan kesadaran pada anak cucu dan kita semua untuk membuang sampah pada tempatnya.

 

Mendapatkan penghargaan Adipura bukanlah suatu tujuan, tetapi kesehatan dan keindahan lingkungan merupakan harapan kita bersama. Jika harapan tercapai, secara tidak langsung berarti kita sudah mendukung program pemkot dengan semboyannya Pontianak Kota Bersinar (bersih, sehat, indah, aman, dan ramah).

Memang ini hanyalah wacana dari penulis dan sepertinya sulit untuk dilaksanakan, akan tetapi tidak ada salahnya kita mencoba untuk melakukannya, kalau tidak kita mulai dari sekarang kapan lagi? Lebih baik mencoba daripada tidak, lebih baik tidak terlambat daripada terlambat. Buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan, Hanya orang sembarangan membuang sampah sembarangan, dan satu hal yang perlu diingat Kebersihan Bagian dari Iman. Penulis meyakini jika segala sesuatu dilakukan dengan niat yang ikhlas dan tulus akan mendapat berkah dan hidayah dari Yang Maha Kuasa.

 

DAPTAR PUSTAKA

 

Anwar, Ali. 2003. KOMPLIK SAMPAH KOTA. KJB (Komunitas Jurnalis Bekasi)

http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2879

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0401/10/Fokus/791526.htm

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=112657 http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0403/30/0802.htm

 

Last Updated: Thursday, 8 June 2006 5:05 A GMT :: Comments/Trackback

 

 

Hosted by Blog-City Version: 4.3.1

 

 

3. Foto – foto

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROYEK PENGADAAN BIS BETON

UNTUK MENGUBAH POLA PENGELOLAAN LIMBAH DI KELUARGA

 

Dwiyathi Utami / 0402005066

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

 

Keluarga Angkat Bapak Ketut Widiantara

Banjar Kedampal – Desa Dauh Yeh Cani – Abiansemal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM PENDIDIKAN KEDOKTERAN KOMUNITAS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN 2006

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  ISI

 

 

Sampul Laporan           ………………………………………………………………………..         

 

Daftar Isi                      ………………………………………………………………………..

 

 

Isi Laporan

 

  1. Latar Belakang                         …………………………………………………01
  2. Tujuan                                                  …………………………………………………03
  3. Kegiatan Proyek                                   …………………………………………………03
    • Persiapan                                 …………………………………………………03
    • Pelaksanaan                             …………………………………………………05
    • Evaluasi                                    …………………………………………………06
  4. Hasil yang Dicapai                                …………………………………………………07
  5. Masalah yang Dihadapi             …………………………………………………08
  6. Upaya Pegembangan Lebih Lanjut        …………………………………………………08

Lampiran                                                          …………………………………………………09

Daftar Pustaka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

E-mail: sumaikuy@aol.com

 

Anwar, Ali. 2003. KOMPLIK SAMPAH KOTA. KJB (Komunitas Jurnalis Bekasi)

http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=2879

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0401/10/Fokus/791526.htm

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=112657 http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0403/30/0802.htm

Last Updated: Thursday, 8 June 2006 5:05 A GMT :: Comments/Trackback

 

http://www.bapedal-jatim.go.id/menuisi/artikel/sampah.htm

Thursday, 8 June 2006

 

www.idepfoundation.org

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Jadwal Imunisasi 2006 (IDAI)

JENIS
VAKSIN

UMUR PEMBERIAN VAKSINASI

BULAN

TAHUN

LHR

1

2

3

4

5

6

9

12

15

18

2

3

5

6

10

12

 PROGRAM PENGEMBANGAN IMUNISASI (PPI – diwajibkan)

BCG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HEPATITIS B

1

2

 

3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

POLIO

0

 

1

 

2

 

3

 

 

 

4

 

 

5

 

 

 

DTP

 

 

1

 

2

 

3

 

 

 

4

 

 

5

 

 

6

CAMPAK

 

 

 

 

 

 

 

1

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 PROGRAM IMUNISASI NON-PPI (dianjurkan)

Hib

 

 

1

 

2

 

3

 

 

4

 

 

 

 

 

 

PNEUMOKOKUS (PVC)

 

 

1

 

2

 

3

 

4

 

 

 

 

 

 

 

INFLUENZA

 

 

 

 

 

 

DIBERIKAN SETAHUN SEKALI

MMR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

 

 

 

 

2

 

 

TIFOID

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ULANGAN TIAP 3 TAHUN

HEPATITIS A

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2x INTERVAL 6 – 12 BLN

VARISELA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

cerita seorang pengemis

Saya teringat sebuah cerita, ketika saya berada di salah satu ruangan rehab medis, ini mengilhami kehidupan saya, ceritanya begini : ada seorang pengemis yang sangat renta dan buta berjalan seorang diri di gelapnya malam, dan ketika itu ada seorang anak muda menghampirinya dan berkata “Pak, bawalah pelita ini”. Si pengemis lalu menjawab “Buat apa saya membawa pelita ? toh saya tidak bisa melihat dengan pelita ini”. Kemudian dijawablah dengan halus oleh pemuda tadi, “pelita ini berguna agar orang lain bisa melihat bapak yang berjalan di tengah malam, agar bapak tidak tertabrak”.

 

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 Comment

Filed under Uncategorized